Sunday, February 24, 2013

Faktor U

Akhir-akhir ini, tepatnya beberapa tahun belakangan, kata-kata ini menjadi sangat populer di telinga saya. Faktor U! alias Faktor Umur, menjadi terdengar dimana-mana. Selain karena saya bertambah tua, juga karena banyak orang lain yang 'juga' bertambah tua. Sedangkan orang-orang di sekitar saya akan tetap lebih muda dari saya. Pasalnya, selama hampir genap empat tahun saya terus bergaul dengan adik leting. Ya! saya kuliah telat setahun sehingga saya belajar bersama teman-teman yang sekaligus adik leting. Walau kalau dari segi umur masyarakat umum, saya masih sangat-sangat terbilang muda, jika ditempatkan pada range umur 0-63 tahun.... :p

Selama ini, perbincangan tentang umur selalu menjadi bahan ulokan yang lucu. Saya yang menjadi korban menambah-nambah efek dramatis dan tidak terima agar perbincangan ini menjadi tetap lucu dan menarik. Saya selalu menolak dan marah saat dibilang tua, merasa dan menyebut-nyebut diri sebagai ABG, maka sahut-menyahut terdengar bantahan, ejekan dan celutukan-celutukan lucu lainnya, sehingga perbincangan tentang Faktor U tidak pernah absen dari tawa membahana.

Sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar marah atau menolak ketika saya mengucapkan perkataan-perkataan bernada 'menolak' dan 'marah' yang lazim saya lontarkan. Menurut saya itu hanya lucu-lucuan. Selama hampir empat tahun itu berlangsung tanpa sedikit pun terbersit rasa serius. Malah terkadang saya menjadikan kambing hitam 'faktor U' saat anak-anak itu sedang serius tentang sesuatu dan saya bikin kacau. Contohnya, pas latihan tari saman, saya jelas-jelas cepat sekali pegal kakinya dan merusak formasi, maka dengan cepat saya minta break dengan berkata 'maap ya faktor U' dan kontan yang lainnya tertawa.


Tapi, lain halnya dengan kali ini, saat saya dengan sepenuh hati alias tidak main-main, sedang mengungkapkan pendapat, dan di balas/dijawab dengan tidak main-main pula oleh adik leting saya ini, tiba-tiba ada orang ketiga yang juga adik leting yang mengucapkan kata 'mungkin karena faktor U'. Kontan saya merasa tersengat cukup parah. Baru kali ini saya tersinggung dikatai faktor U. Pasalnya apa yang saya utarakan mungkin terdengar kolot dan tidak modern alias keliatan banget pemikiran jauh kedepan versi orang tua yang dianggap silly oleh anak-anak. Well, saya tidak menyalahkan mereka, mereka mungkin seperti biasa menyebutkan faktor U sebagai candaan. 

Sebenarnya, I hate being that sensitive about faktor U. It's not me at all. But, yeah, kali ini saya benar-benar mengakui menjadi 'orang tua' dengan menjadi lebih sensitif dari biasanya. Overall, apapun yang dikatakan orang lain tentang saya, I don't really care. Karena tidak ada juga gunanya peduli berlebihan, apalagi yang sifatnya tidak membangun pribadi saya menjadi lebih baik. Sikap positif/negatif saya tetang kemampuan dan diri saya adalah yang mampu membuat saya bangkit dan menjadi lebih baik/buruk. Toh kita hidup bukan untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk menyenangkan pencipta kita. Yang harus kita perdulikan adalah bagaimana Allah akan menilai kita, baik atau buruk? That's it. 




*Salam Faktor U
Foto:  facebook.com/MedicalHumour

0 comments:

Post a Comment

Arigatou.. Visit Again Yaa... ~