Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, February 28, 2015

Tertunai Tanpa Kata

Sebuah janji,
Jika diiringi niat tulus, jujur dan benar
Tidak akan ingkar
Bagaimanapun jalannya
Tertunai, InsyaAllah
Walau tanpa kata

Kuning yang mempesona, 28 Feb 2015

Tuesday, June 24, 2014

Patah Hati






Ternyata begini patah hati
Inginnya biasa saja, tapi tidak bisa 
Pertanyaanku adalah.... 
Mengapa harus mengucap selamat tinggal dengan cara yang begitu indah 
Hijau, warna yang begitu kucintai. 


*Salam Galau






Photo: supamadi.net

Monday, June 16, 2014

Pertemuan

Tanpa canggung
Jelas dan pasti
Tegas
Melambai tangan
Senyum merekah
Menanti untuk ku sambut

Refleks,
Senyumku merekah
Menyebut namamu tak bersuara
Dan membalas lambaianmu
Seperti terhipnotis
Sesuatu yang tak bisa terjelaskan

Bahagia saat berjumpa
Berbekas dalam setelah berpisah
Terkenang indah dalam ingatan

Mengenalmu
Kebaikan, keramahan dan kesederhanaanmu
Membuatku yakin
'Ya' jawabku
Untuk tanyamu yang belum terucap

Thursday, March 6, 2014

Wednesday, February 5, 2014

The Crescent Moon

Mencari sosoknya di dalam lautan awan.
Meneropong, mengitari langit yang tak berujung.
Tak kunjung berjodoh.
Harap tlah pupus, asa tlah hilang.
Namun,
Ujung sabit itu menyapa.
"Tidakkah kau lihat sinarku?"
"Aku di sini!"
Sinar sabit itu terpantul dalam senyumku.
Sabit itu pun terlukis indah di bibirku, tak kusadari.
Bahagia menyelinap dalam gelapnya hati yang tertutup awan.
Bagai sinar sabit yang menyelinap dalam pekatnya malam berpeluk kabut.



*The Crescent Moon, February 5th, 2014

Friday, July 1, 2011

Nyata

Di sini
Sekarang
Dalam keadaan ini
Berfikir bahwa ini mimpi
Bermain sesuka hati
Hanya akan berakhir tanpa hati
Nyatanya... selalu ada terjaga setelah tertidur
Sebelum kematian
Tak hanya mimpi
Hari esok menanti


Sunday, February 6, 2011

Harus!

Letih...
bahkan tangan ini tak mampu mengangkat beban
padahal ringan saja adanya
mata mulai memburam
si petak hitam berlensa absen menemani

Terduduk
pelan menikmati senja
sayup-sayup terdengar suara riuh anak-anak
telinga tak lagi awas
samar-samar
terdengar Al fatihah dibaca serempak
kompak bersemangat
ayat demi ayat berirama mengalun khas kanak-kanak
amiiin...terdengar keras, diiringi tawa
surah-surah pendek juz 30 menyusul
kali ini maju mundur
khas kereta api, sahut menyahut

Ah...malunya diri
umur tak lagi muda
21 tahun hampir sempurna terlewati
anak-anak itu menang
aku?
juz 30 tak semua mendiami memori
sebagian tercatat rapi dalam lembaran kitab suci

Setelah ini, buruk itu pun harus pergi
baik harus kujemput tuk menemani hingga hayat kembali pada-Nya.


10 hari menjelang 21...
Sore yang damai di kapal pecah baru.

Monday, November 1, 2010

Pilihlah Jalanmu Karena Kau Tau

Hidup...
Pilihan!
Ketika bahagia, membahagiakan atau dibahagiakan
Ketika sakit, menyakiti atau disakiti
Ketika disakiti, membalas atau menerima
Ketika tersakiti, mengimpaskannya atau ikhlas
Ketika menangis, menangisi atau ditangisi
Sungguh semua pilihan

Sadar maupun tidak
Kita memilih
Dengan kata, tatap, dan gerak
Semua memilih jalannya
Kadang tak tau tujuan
Kadang tau, mengerti, dan jalani

Belajar dari hidup
Pilihan terbaik dari smua yang tersedia
Tak banyak yang memilih
Ironi, bagi yang tak memilih
Jangan rendah dari kerbau!
Jatuh di lubang yang sama

Ikhlas, akhir pencarian hidup
Setelah berjibaku dengan segudang rasa
Kadang berakhir manis, kecut bahkan pahit
Sungguh ia bagai telaga sejuk melegakan
Rasa hanyut tanpa luka
Tersenyum menyongsong pagi


Teruntuk seseorang yang amat kukasihi (semoga karena-Nya dan disatukan di dunia dan surga-Nya, Amiin), pilihlah!
Toh kau telah rasa, melebihi rasaku. Bohong jika ku katakan tau dan rasa seperti rasamu, ku tak pernah rasakan. Ku tau kau pasti lebih baik darinya. Kita sempurna adanya, hitam dan putih dalam satu raga, dalam satu jiwa. Kau, Diriku, Dirinya, Diri Mereka... mungkin hitamnya lebih pekat, cemerlangkan putihmu. Jangan biarkan mereka rasai rasamu. Kau tersenyum perih dan berkata: "Sulit adanya". Ya, sulit tapi tak ada yang tak mungkin. Semoga Al Fatihah2 ku hadir untuk mu. Jalanmu panjang, biarkan sekarang ikhlas itu memelukmu demi senyum masa datang, saat kau lihat ke belakang. Do'aku untukmu wahai cinta...


Banda Aceh, Buku dan Bantal, 1 November 2010

Sunday, October 31, 2010

Keakutan Ini Tak Ingini Nyata

Kebersamaan ini tak indah lagi kurasa
Hilang tanpa rasa
Kini penyakitku akut
Semua tak serupa lagi adanya

Ingin ku sendiri bertemankan sepi
Wujud ketakbersyukuranku
Tapi apa daya
Kebersamaan ini tetlalu lekat

Senyum pun tak lagi menghiasi
Walau sekedar pura
Dulu cadangan energiku penuh
Pura tak jadi soal

Tapi kini, terkuras oleh waktu
Dan semua bertanya...
Kemana hilangnya si tawa?
Entahlah, kepenatan merenggutnya

Jika ku pergi
Harus dengan kebersamaan lain yang menyambut
Hmm...
Adakah boleh pangeranku bernama sepi
Mungkin tak kan datang dengan kuda putih
Tapi akulah yang menjemputnya

Kalut bersama nyata, Banda Aceh, 31 Oktober 2010

Friday, October 29, 2010

Berlalu















Gerimis...
Sendiri
Menenangkan
Dalam keramaian

Bercampur rasa
Bingung
Aneh
Berakhir begini...
Terbersit kecewa

Nafas terhela
Menanti lima belas menit berlalu
Menyenderkan punggung lelah di tiang rumah-Nya
Ia terus menanti
Sesekali mendongak
Memastikan tak ada yang muncul
Ya... dan memang tak ada.

Sore yang sejuk, Ash Shifa
27 Oktober 2010

Thursday, October 21, 2010

Ku Bukan Musuhmu

Makhluk itu...
Hm... Sebut apa untuknya?
Pemuja?
Ya...Pemuja
Rahasia?
Kurasa tidak, ia terlalu terlihat
Tapi terlalu pengecut pada makhluk yang lain
Pecundang mungkin lebih pantas

Makhluk yang lain...
Hm... Sebut apa untukmu?
Penguasa?
Ya... Penguasa

Raganya milik Penguasa
Tapi hatinya tidak
Matanya melihat Penguasa
Tapi pandangannya tidak
Menyakitkan?
Ya... Sumber penyakit akut

Hapus... Hilang...
Hanya harap
Dengan itu kan sepenuhnya menjadi milik penguasa
Toh aku tak sedang bersaing
Apalagi tarik ulur tuk si Pecundang

Menghantui?
Aku hanya ada
Di sini
Tidak di tempat mu
Bayang ku pun tak sampai

Pikiranmu...
Itu yang membuatmu lari
Koar-koarmu...
Toh tak bermakna bagiku
Aku bukan musuhmu

Intip hati dan pikiranmu
Siapa di sana?
Aku, dirimu atau kebutaan akan dirinya?
Hanya dirimu yang tau
Ku tak miliki kuncinya
Kau penguasa, pintu itu milikmu
Buka dan masuki
Smoga kau temui utuh wujudnya.

Di atas kuning, hijau & putih yang nyaman,
(21 Okt 2010, 00:45)

Buang...

Adakah beda?
Terbang oleh angin
Atau dibuang kemudian tak terbang

Yang tak bersengaja bebas
Yang bersengaja diam bergeming
Mintakah kau dipungut?
Tanggung jawab

Kuning yang bersentuhan lantai
Serasa enggan bergerak
Angin terus bertiup
Sepoi-sepoi
Menyenangkan
Menghanyutkan
Terlintas ilham

Si puntung putih bergulir
Lantai yang sama
Nasib yang sama
Si kuning, si putih
Sang penikmat yang sama

Batangan lain disulut
Ini yang ketiga slama ku di sini

Penikmat lain datang meramaikan
membuat nasib bagi benda-benda sejenis
Sama... melantai
Merelakan angin membawanya

Kasihan negeri ini
Semua penikmat lupa daratan
Adakah mereka tau?
Atau tak mau tau?
Inilah wajah mereka
Wajah negeri ini.

Sore bertemankan kebab, 21 Okt 2010

Tuesday, October 12, 2010

Henti...!

Perih
Terluka
Kata
Terdiam
Jera
Tersadar
Cukup
Tersakiti
Lagi
Terhina

Monday, June 28, 2010

Sajak Terbaik...

sajak yang dari pertama x baca'a dah membuatku jatuh hati...

luar biasa.....!!

dah bertahun2 tapi tetep aja gak pernah bosan...

bagusssss bangeeeeeettttt.....>_<.....


AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

- Sapardi Djoko Damono


Arigatou.. Visit Again Yaa... ~