Tuesday, June 24, 2014

Patah Hati






Ternyata begini patah hati
Inginnya biasa saja, tapi tidak bisa 
Pertanyaanku adalah.... 
Mengapa harus mengucap selamat tinggal dengan cara yang begitu indah 
Hijau, warna yang begitu kucintai. 


*Salam Galau






Photo: supamadi.net

Monday, June 16, 2014

Pertemuan

Tanpa canggung
Jelas dan pasti
Tegas
Melambai tangan
Senyum merekah
Menanti untuk ku sambut

Refleks,
Senyumku merekah
Menyebut namamu tak bersuara
Dan membalas lambaianmu
Seperti terhipnotis
Sesuatu yang tak bisa terjelaskan

Bahagia saat berjumpa
Berbekas dalam setelah berpisah
Terkenang indah dalam ingatan

Mengenalmu
Kebaikan, keramahan dan kesederhanaanmu
Membuatku yakin
'Ya' jawabku
Untuk tanyamu yang belum terucap

Friday, June 13, 2014

Traveling dan Belajar

Assalamu'alaikum minna san.....^_^

Kali ini saya tertarik buat nulis sebuah post tentang traveling. Saya orang yang senang traveling, walau belum bisa dikatakan traveler, backpacker, dan sejenisnya. Soalnya jari tangan sebelah belum habis buat menghitung daerah atau negara yang saya kunjungi. Apapun itu, saya cinta traveling.

Salah satu daerah yang sangat ingin saya kunjungi di Aceh adalah Takengon.
Salah dua daerah yang sangat ingin saya kunjungi di Indonesia adalah Bali dan Papua.
Salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi di Dunia adalah Jepang.
Kalau Mekkah dan Madinah, itu destinasi wajib yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.

Tentu anda punya list masing-masing untuk yang namanya tempat yang ingin dikunjungi. Mari ngelist!!

Dari pengalaman sekuprit mengunjungi tempat-tempat yang cukup dihitung dengan jari sebelah tangan, saya belajar satu hal. Tujuan dari traveling adalah menjadi bijaksana. Belajar sebanyak-banyaknya dari tempat yang saya kunjungi, sekecil dan sebesar apapun itu. Seperti mengecek prakiraan cuaca sebelum bepergian, sehingga dapat menyesuaikan jenis pakaian yang cocok, jumlah air yang dibawa, perlengkapan hujan, seperti payung, dkk, dan hal-hal lainnya. Terkait cuaca ini, saya belajar satu hal, orang-orang di luar tempat saya tinggal, tidak segan-segan menenteng payung, jas hujan atau pun botol minum kemana-mana. Hal ini sangat biasa terlihat dimana-mana, baik di Malaysia maupun di Korea.

Saat berada di Kuala Lumpur beberapa tahun lalu, saya ingat teman saya menjadi sering menggunakan headset agar terlihat sama keren dengan penduduk KL. Sedangkan di Korea, telah ada himbauan atau aturan untuk menggunakan headset di tempat umum agar tidak mengganggu orang lain. Jadilah anda akan melihat orang menggunakan headset dimana-mana terutama di ruang-ruang publik. Bukan hanya sekedar ingin terlihat keren, ternyata memang ada manfaatnya. Kalau di KL, saya kurang tahu apakah sama himbauannya atau tidak, tapi kebanyakan penduduknya juga menggunakan headset saat berada di ruang publik. Jadi, sebelum meniru-niru ada baiknya sekalian tahu manfaatnya apa.

Ngomong-ngomong masalah keren, saat di monorel atau subway, orang-orang banyak yang sibuk dengan HP nya, tentunya HP nya kebanyakan berteknologi canggih dan keluaran terbaru yang bikin ngiler. Didukung cowok-cewek korea yang cakep-cakep. Sempurnalah sudah menjadi sumber keirian. Tapi satu hal yang membuat saya takjub adalah, setelah tampil keren setengah mati begitu, mereka tetap dengan santai menenteng payung atau botol minum. Kalau dari hasil wawancara singkat saya dengan beberapa teman di Banda Aceh, mereka malu dan ribet bawa-bawa payung, menggunakan mantel hujan dan nentengin botol minum. Saya tidak habis pikir, kenapa musti malu ya? Any idea? Apakah harus rela basah demi malu menggunakan payung dan mantel? Kalau yang basah cuma pakaian, ya mungkin masih oke, tapi kalau yang basah itu buku, laptop, HP, dll? Apa kabar jadinya? Lalu apakah lebih baik haus atau beli minuman padahal bisa bawa minum sendiri? Saya saja yang sudah bawa minum harus beli minum lagi karena kurang. Hehehe *ukuran botol saya sepertinya harus diupgrade.

Di lain waktu, seorang ibu Jepang yang tinggal di Banda Aceh, di siang terik yang membahana, dengan santai menggunakan payung menjemput anaknya pulang dari TK yang hanya 200 meter dari rumahnya. Jadi, kenapa musti berpanas-panas ria jika bisa menggunakan payung atau membawa kipas?
Dengan berpanas-panas ria, malah ujung-ujungnya kita ngomel panas lah, marah-marah, malas keluar rumah, dll. Jadi tidak bersyukur akan nikmat matahari yang diberikan Allah. *Saya teringat dinginnya udara Seoul di suatu malam yang mematikan, dan baru sadar bahwa nikmat panas matahari di Banda Aceh begitu berharga.

Memang sesuatu baru terasa berharga saat tiada. Jadi,  apa yang ada di depan mata harus disyukuri dengan cara yang cerdas bukan? Mengapa harus malu? Mari bersyukur...^_^


*Salam payung, mantel dan botol minum.... ;D

Arigatou.. Visit Again Yaa... ~