Showing posts with label Just the way I'm. Show all posts
Showing posts with label Just the way I'm. Show all posts

Wednesday, April 1, 2015

Far Away ~ Simon Adams

Beberapa waktu lalu, Line menshare sebuah id baru, yaitu Line Story. Jadilah saya Add id baru tersebut. Ternyata setelah di Add ada abang ganteng Nicholas Saputra dan kakak cantik Mariana Renata yang main drama mini line singkat. Jadi tiap hari kamis kita dikirimkan link video youtube mini drama ini. Daaaan.......suatu hari OST pertamanya muncul, judulnya Far Away penyanyinya Simon Adams. I love this song. Lagunya enak didengar dan setelah ngeh dengan liriknya dan ngeliat videonya yang berlatar Paris jadi teringat seseorang ding. Hahaha, you know who you are aja lah ya. Hohohoho.

Here we go.....langsung aja menuju video lagu yang keren itu ya. ^0^




Selamat menikmati....


*Salam Abang Nic.... #Eh

Sunday, March 29, 2015

Ini Dan Itu Maka.....

Ini dan itu maka Wawawa......Hahahaha

Wawawa moment adalah momen dimana saat saya sedang membaca sebuah tulisan, lalu kemudian secara tiba-tiba ilmu discourse analysis dan ilmu psychology keluar barengan, hasilnya adalah pura-pura gila aja. Hahahaha. A simple post that should make me smile brightly turn into a complicated writing. Tulisan ini malah membuat saya jadi tertawa terbahak dan berkerut-kerut kening tidak karuan. Hingga akhirnya saya memutuskan "Wawawa" alias pura-pura gila dan ngak paham untuk bisa tersenyum panjang kalau ingat post yang satu itu.

Gara-gara kejadian kali ini, saya jadi teringat petuah dosen penguji sidang skripsi saya. Tepat setelah selesai sidang skripsi, si ibu bilang pada saya, "Juza, setelah ini rencananya apa?" Saya menjawab beberapa hal yang ada dalam pikiran saya, tentunya tentang rencana masa depan saya. Kemudian si Ibu mengeluarkan pernyataan yang membuat saya dan teman-teman yang menunggu saya di luar ruangan sidang terkejut. "Anak Psikologi bagusnya menikah sebelum mengambil S2", begitu kata si Ibu, Kami kontan bertanya, lho, kenapa? Ibu penguji saya menjelaskan karena kalau sudah S2, tambah banyak ilmu psikologinya, semakin banyak juga hal yang nantinya jadi pertimbangan. Karena keliatan calonnya begini dan begitu. Sontak kami ber Oo ria dan tertawa bersama-sama.

Benar saja, kalau sekarang baru S1 Psikologi, ditambah ilmu discouse dari perkuliahan saya di Bahasa Inggris bisa membuat hal sepele seperti membaca aja jadi complicated, belum lagi hal-hal lainnya. Well, tapi apapun itu, kembali lagi ke diri masing-masing. Semoga saya dijauhkan dari sikap-sikap menghakimi, sok tau dan sok paham yang biasanya kerap menyerang para individu yang berkecimpung di dunia Psikologi. Amiiin XD

*Salam Psikoogi.....^-^

Saturday, February 28, 2015

Tertunai Tanpa Kata

Sebuah janji,
Jika diiringi niat tulus, jujur dan benar
Tidak akan ingkar
Bagaimanapun jalannya
Tertunai, InsyaAllah
Walau tanpa kata

Kuning yang mempesona, 28 Feb 2015

Menunggu = Gosong Lagi dan Lagi

Assalamu'alaikum......Smoga kita semua diberi kesehatan untuk tetap dapat beraktivitas dan beribadah kepada Allah. Amiiin.

"AAAAggghhhh......HAhahhahaha....."

Kira-kira beginilah jerit saya yang diikuti tawa yang ditujukan pada diri sendiri. Kemarin saya telah membuat sebuah masakan yang sengaja dimasak menjadi gosong. Dan saya amat merasa bersalah.

Adalah beberapa hari yang lalu saya bilang kepada mamak saya, bahwa saya pingin makan "sie reboh". Makanan ini adalah makanan khas Aceh Besar yang tidak pernah dimasak di dalam keluarga kami yang Aceh Pidie. Sayalah orang pertama yang memasak makanan ini setelah jatuh hati akibat mencicipinya di rumah teman. Jadi, jika ada daging di hari meugang atau lebaran, mamak saya akan menyisihkan sejumlah daging untuk saya masak sie reboh. Tidak banyak, karena yang makan cuma saya seorang, yang lain tidak doyan karena saya buatnya versi ektra pedas. Hahahha.

Setelah saya bilang saya pingin sie reboh, mamak saya membelikan daging untuk saya masak, setelah dimasak, masakan ini harus sering-sering dipanaskan beberapa hari, baru rasanya benar-benar enak dan pas untuk dinikmati. Setelah beberapa hari saya memanaskannya, tapi karena tak sabar saya sudah menghabiskan setengahnya. Suatu hari, tepatnya kemarin, saya memanaskannya lagi, karena mengingat masi lama, maka saya menyambi melakukan hal lain. Daaaan, terjadilah peristiwa gosong yang parah, karena saya Lupaaa!!!
Satu rumah berubah bau gosong, Daging sie reboh bagian atas yang masih bisa diselamatkan saya sisihkan, dan yang gosong terpaksa saya masukkan tong sampah. Hikss. Saya merasa amat bersalah, makanan yang dagingnya mahal, sengaja dibelikan karena saya pingin, sengaja saya masak dan bersabar berhari-hari (walau udah habis setengah) akhirnya harus berakhir di tong sampah. Masih banyak orang yang kelaparan di luar sana. Astagfirullah.....Hiksss.....T.T 

Sebenarnya, dalam persoalan masak memasak dan memanaskan makanan, mamak saya selalu berpesan jangan ditinggal. Karena trek record saya yang amat sering menggosongkan makanan membuat saya masuk black list mamak saya. Hahahaha.



Saya selalu sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan, tapi kalau lama sekali harus menunggu saya biasanya akan sambil melakukan sesuatu. Jika sudah begini, maka dimulailah mala petaka. Ayah saya lebih khawatir kepada masalah bahayanya masakan gosong karena dapat terjadi kebakaran. Hiks

Beginilah saya, susah sekali disuruh menunggu, saya terlalu asik dengan banyak hal selagi menunggu, hingga akhirnya lupa apa yang sedang ditunggu. Suatu hari karena tidak ingin membuat makanan rugi, akhirnya saya membuat alarm, agar setiap 5 menit saya mengecek masakan yang sedang saya tunggu. Hahhaha. Seharusnya saya selalu melakukan ini ya. Yosh Baiklaaaah.

Di lain waktu, saat menunggu teman yang sangking lamanya datang, saya menyambil dengan pergi ke tempat lain daripada menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa, sangking asik sendiri melakukan hal lain, akhirnya saya malah tidak menunggu, saya lupa. Begitu sadar, saya merasa bersalah dan langsung mengabari si kawan, bahwa saya sambil menunggu lupa dan sedang di tempat lain mengerjakan sesuatu. Si kawan malah santai bilang, dia masih di rumah. Oalaaah.

Menunggu mungkin merupakan hal yang membosankan, tapi jika menunggu itu diisi dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat insyaAllah tidak akan bosan. Begitu keyakinan saya. Hal ini berlaku untuk banyak hal, kecuali masak memasak yang menunggu merupakan proses yang harus dilewati dengan sabar tanpa boleh lengah. Hahahahha.

Saya sedikit terpukul dengan peristiwa gosong kali ini, semoga bisa menjadi pelajaran buat saya dan membuat saya lebih sabar menunggu. Amiiin

*Salam Gosong.....-_-"



Photo: zazzle.de and CartoonStock.com

Thursday, February 26, 2015

Membahagiakan Orang tua

"Selagi masih singel, puas-puaskan dengan orang tua, bahagiakan mereka, sebelum berkeluarga!!!"

Kalimat ini terbaca oleh saya, ditulis oleh seorang yang tidak saya kenal di komen facebook salah satu teman facebook saya. membuat saya tercenung dan teringat beberapa cerita, kejadian dan kabar-kabar. Well, dari cerita dan kabar-kabar yang saya dengar, maka wajar sekali seorang bapak-bapakyang sudah berkeluarga menulis komen di atas di sebuah status anak muda yang masi single.

Beberapa waktu lalu, saya ikut seminar "Menikah Itu Indah" yang diisi oleh Ustadz. Mohammad Fauzil Adhim. Walaupun judulnya seperti tertera di spanduk seminar tapi isi nya tidak tepat seperti apa yang tertulis. Namun acara itu adalah acara keren yang betul-betul membuat saya ber O O ria, soalnya banyak sekali tauladan yang bisa saya ambil dari kisah-kisah sahabat dan sahabiyah yang selama ini cuma saya baca dan saya pahami dari sisi sebuah cerita sahabat, padahal ternyata dari segi yang lain juga dapat diambil sebagai contoh yang membuat saya, ber lho? Eh Iya, Waaah ria sepanjang seminar. Ya, begitulah kira-kira eskpresi saya saat bagaimana kisah Asiah, Maryam, Khadijah dan Fatimah diambil hikmahnya dari sisi keperempuanan, pernikahan dan keluarga.

Back to the topic, salah satu peserta seminar bertanya, "Bagaimana kalau kita menunda menikah karena ingin membahagiakan orang tua terlebih dahulu?". Maka setelah pertanyaan dilontarkan Ust. menjawab dengan sebuah pertanyaan baru, "Apakah anda semua disini ingin membahagiakan orang tua dulu baru menikah?" sebagian menjawab 'iya' dan sebagian menjawab 'tidak' termasuk saya. Kemudian jawaban dari ust. memang klik sekali dengan jalan pikran saya. Bahwa, membahagiakan orang tua itu bukan hanya dulu, sekarang dan sebelum menikah, tapi selamanya, sepanjang hidupnya dan hidup kita. Terus menerus, tidak putus.




Hanya saja, mungkin cara membahagiakannya jadi sedikit berbeda. Misalnya selama ini tinggal bersama orang tua, setelah menikah tidak, tapi bagaimana diusahakan di waktu tertentu kita tetap punya quality time bersama orang tua, tidak perlu sering jika memang jauh dan tidak memungkinkan. tapi yang penting itu kualitas kebersamaannya. Jika biasanya memberikan sebagian atau seluruh gajinya dengan orang tua, maka dikomunikasikan, otomatis orang tua akan mengerti, namun jangan serta merta dan meninggalkan celeng kosong. Walau tidak memberikan secara penuh, karena sekarang berkeluarga, berikan semampunya yang memang sebaiknya dianggarkan atau diberikan dalam bentuk barang, makanan atau hal-hal kesukaan orang tua. Atau hal-hal lain, silahkan saja dimodifikasi sepintar dan sebaik mungkin. Namun, pesan ust. jangan menceritakan sebuah kabar atau berita yang tidak baik kepada keluarga, silahkan diselesaikan sebisa mungkin tanpa melibatkan keluarga, kecuali jika memang tidak bisa lagi dihindarkan. Karena jika seorang anak sedih, bermasalah, pusing, maka orang tua pasti juga ikut kepikiran. Kan kasian, udah diurus dari kecil, masak iya udah gede pun masalah kecil yang kita punya harus diurusin orang tua juga. Belajarlah bersama-sama pasangan menyelesaikan masalah dengan komunikasi yang baik. Bahkan, perkataan yang baik pada orang tua saja bisa membuat orang tua senang, jadi tidak melulu dalam bentuk finansial, untuk apa finansial yang dikirimkan ke orang tua banyak, namun tidak pernah ada saat orang tua sakit, selalu ketus, suka membantah, nah jadi mari menjadi pribadi yang membahagikan orang tua kapan pun, walaupun setelah menikah.

Ya, begitulah kira-kira isi jawaban dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan dan menurut saya sekaligus menjawab keheranan saya atas komen fb di atas. terlihat mudah dikatakan tapi sepertinya akan sulit dipraktekkan, Hahaha. Tapi dimana ada kemauan yang kuat, keikhlasan dan ilmu, insyaAllah dengan terus belajar dan mencoba tanpa lelah, insyaAllah akan bisa membahagiakan orang tua ya, kapanpun dimanapun. Amiiin.

*Salam Anak Meutuah...^_~



Photo: jenniferrasmussen.myadventures.org

Queen Cafe = Queen Service

Assalamu'alaikum pembaca meutuah**

Setelah sekian lama tidak menulis di blog ini, lebih dari satu semester, huhuhu.
Tapi saya kembali menulis dengan kabar gembiraaaa. Saya sudah wisuda, Alhamdulillah. Sah nambah 3 huruf satu titik dan satu koma di belakang nama, Yuhuuuy!!
By the way, nanti deh kapan-kapan saya nulis tentang hari bahagia itu, kali ini saya akan bercerita tentang hari bahagia lainnya.

Kemarin itu saya dan beberapa temen yang sedang semangat belajar bareng, kita belajar TOEFL untuk nambah-nambah dijid di angka yg tertera di sertifikat PBT nantinya. Nah, saya yang men-skip makan siang karena harus membereskan sesuatu, mulai lapaaaar setengah mati. Setelah buru-buru dari kampus kemudian belajar bareng, saya benar-benar keroncongan. Terus temen yang baik hatinya, nanyain apa mau ditemenin makan? Saya pun dengan senang hati mengiyakan. Saya dan teman saya ini, Lia, memang sering hunting tempat dan makanan enak bareng. Jadilah Lia menawarkan opsi-opsi tempat makan yang belum pernah kita coba. Alhasil, pergilah kami ke jalan Batoh Baru yang disitu dibuka sebuah cafe baru. Nama tempatnya Queen Cafe, dari luar tempatnya cantik, minimalis, romantis dan sepiiiiii banget. Kita mulai bingung ini tempat buka atau ngak sih. Akhirnya kita memutuskan masuk ke toko sebelah yang begitu menggoda, Informa!! you know lah ya, kalau udah masuk sini, air liuuur mulai menganak sungai, mupeeeeng, Uhuk *keselek liur (Maap ya jorok..:p)

Setelah mengelilingi informa yang terdiri dari 3 lantai dari 5 pintu toko, kebayang ya mutar-mutarnya, kita akhirnya masuk ke Queen Cafe, dari pertama masuk, pelayannya udah nyamperin kita dan bukain pintu masuk. Karena kosoooong melompong, kita milih meja suka-suka hati, akhirnya kita duduk dekat pintu kaca biar terang. Pelayannya ngantarin menu, setelah nanya-nanya dan pilih-pilih akhirnya kita pesan Beef Lasagna dan Cheese Cake plus Cappucino dingin.

Sambil nunggu makanan, kita ditemani dengan lagu-lagu asik yang rata-rata favorit saya, kita berdua ngobrol dan poto-poto. Table set yang udah tersedia itu cantik dan rapi, serba putih. terus pelayannya mindahin set makanan yang ngak kepake buat nantinya diletakkan makanan kita.

Saat makanan datang, kita bahagia banget, lapar soalnya. Tapi lapar tidak menghalangi saya yang hobi poto makanan, selesai poto-poto kita mulai nyicip. Makanannya enaaak. Dengan harga yang ditawarkan, porsi yang ada itu cukup besar dan mengenyangkan. Beef Lasagnanya berasa home made banget, ngak banyak penyedap dan bumbu instant cuma minus mozarela aja. Cheese cakenya itu yang paling oke yang pernah saya makan. Bayangin aja, saya yang ngak suka keju tapi suka dengan cheese cakenya. Wew.



Karena kami berdua satu-satunya custumer disitu, dari mulai kami duduk hingga mau magrib kami pulang, jadi berasa bingung ini makan siang atau super sweet date berdua sih.  Hahaha. Karena udah kayak specially booked satu tempat gitu, terus pelayannya sigap banget. Saat matahari menyerang tepat duduk kita, terus langsung aja pelayannya menawarkan pintunya ditutup setengah biar ngak panas, terus saat kita selesai, pelayannya juga sigap banget mindahin piring, sedok dan gelas biar kita berdua nyaman ngobrol di situ lama-lama tanpa gangguan piring kotor. Saat saya hendak minta saos tambahan, baru noleh aja, pelayannya udah nyadar kalau kita butuh sesuatu dan nyamperin kita dengan sopan nanyain kita minta apa. Waaah, pokoknya feel like a queen banget berada di Queen Cafe.

Saya pribadi sih senang-senang aja, cafe itu tetep sepi biar kita bisa ngedate sering-sering, cuma ya kasian juga, tempatnya dan makannya enak plus pelayanannya bagus gitu sepi pengunjung. Hehehe.

Jadi Queen Cafe, bisa jadi salah satu alternatif tempat makan yang asik.

*Salam Makan ^_~



**Meutuah = Baik budi (Bahasa Aceh)

Wednesday, July 9, 2014

Cintaku Pada Skripsi Berat di Ongkos

Assalamu'alaikum.......
Selamat menjalankan Ibadah Puasa Bagi Umat Muslim Seluruh Dunia....^_^

Adalah beberapa malam yang lalu menjadi malam yang penuh berkah. Taraweh mulai mewarnai kesibukan malam semua umat muslim.

Kalau bagi saya pribadi, awal puasa saya usahakan taraweh di musalla komplek. Tengah puasa biasa diisi di luar karena agenda buka bersama, dan sepuluh terakhir diagendakan di mesjid Oman yang dirindukan. Taraweh di musalla dekat rumah merupakan salah satu ajang silaturrahim luar biasa dengan para tetangga dan teman-teman masa kecil yang terpisah oleh kesibukan, padahal rumah hanya berbatas beton. Agenda Buka bersama juga ajang silaturrahim dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa dan teman-teman sekarang bersama yang segera pulang kampung, mengukir kebersamaan di bulan suci. Sepuluh terakhir menjadi ajang berjumpa individu-individu baru yang menjadi penyemangat luar biasa.

Kemaren pas 10 pertama, teman saya nanya "Dek Lia gimana? Udah skripsi? Kapan sidang?"
Saya pun menjawab, "InsyaAllah segera, ini mau penelitian, nanti kami minta bantu ya, ehhehe"
"Lho, dek lia kok biasa aja ditanya skripsi, kalau orang lain marah dia"
"Hahaha, Sangking banyaknya yang tanya", Jawab saya sambil tertawa. (Padahal masa2 marah saya sudah berlalu)

Memang luar biasa, perjalanan skripsi di Psikologi itu sesuatu banget. Diakui, teruji dan terbukti.
Mulai dari prosesnya yang panjang, komplit dan detail hingga mengeuarkan banyak waktu, uang, kertas, tenaga, dan air mata. (Ngak lebay, beneran, tanya deh anak-anak Psikologi Unsyiah).

Ini saat-saat menggila saya yang daftar seminar dan teman saya yang daftar sidang

Kira-kira (hanya sebagai gambaran untuk yang berniat kuliah di Psikologi Unsyiah) begini tahapnya:

Friday, June 13, 2014

Traveling dan Belajar

Assalamu'alaikum minna san.....^_^

Kali ini saya tertarik buat nulis sebuah post tentang traveling. Saya orang yang senang traveling, walau belum bisa dikatakan traveler, backpacker, dan sejenisnya. Soalnya jari tangan sebelah belum habis buat menghitung daerah atau negara yang saya kunjungi. Apapun itu, saya cinta traveling.

Salah satu daerah yang sangat ingin saya kunjungi di Aceh adalah Takengon.
Salah dua daerah yang sangat ingin saya kunjungi di Indonesia adalah Bali dan Papua.
Salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi di Dunia adalah Jepang.
Kalau Mekkah dan Madinah, itu destinasi wajib yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.

Tentu anda punya list masing-masing untuk yang namanya tempat yang ingin dikunjungi. Mari ngelist!!

Dari pengalaman sekuprit mengunjungi tempat-tempat yang cukup dihitung dengan jari sebelah tangan, saya belajar satu hal. Tujuan dari traveling adalah menjadi bijaksana. Belajar sebanyak-banyaknya dari tempat yang saya kunjungi, sekecil dan sebesar apapun itu. Seperti mengecek prakiraan cuaca sebelum bepergian, sehingga dapat menyesuaikan jenis pakaian yang cocok, jumlah air yang dibawa, perlengkapan hujan, seperti payung, dkk, dan hal-hal lainnya. Terkait cuaca ini, saya belajar satu hal, orang-orang di luar tempat saya tinggal, tidak segan-segan menenteng payung, jas hujan atau pun botol minum kemana-mana. Hal ini sangat biasa terlihat dimana-mana, baik di Malaysia maupun di Korea.

Saat berada di Kuala Lumpur beberapa tahun lalu, saya ingat teman saya menjadi sering menggunakan headset agar terlihat sama keren dengan penduduk KL. Sedangkan di Korea, telah ada himbauan atau aturan untuk menggunakan headset di tempat umum agar tidak mengganggu orang lain. Jadilah anda akan melihat orang menggunakan headset dimana-mana terutama di ruang-ruang publik. Bukan hanya sekedar ingin terlihat keren, ternyata memang ada manfaatnya. Kalau di KL, saya kurang tahu apakah sama himbauannya atau tidak, tapi kebanyakan penduduknya juga menggunakan headset saat berada di ruang publik. Jadi, sebelum meniru-niru ada baiknya sekalian tahu manfaatnya apa.

Ngomong-ngomong masalah keren, saat di monorel atau subway, orang-orang banyak yang sibuk dengan HP nya, tentunya HP nya kebanyakan berteknologi canggih dan keluaran terbaru yang bikin ngiler. Didukung cowok-cewek korea yang cakep-cakep. Sempurnalah sudah menjadi sumber keirian. Tapi satu hal yang membuat saya takjub adalah, setelah tampil keren setengah mati begitu, mereka tetap dengan santai menenteng payung atau botol minum. Kalau dari hasil wawancara singkat saya dengan beberapa teman di Banda Aceh, mereka malu dan ribet bawa-bawa payung, menggunakan mantel hujan dan nentengin botol minum. Saya tidak habis pikir, kenapa musti malu ya? Any idea? Apakah harus rela basah demi malu menggunakan payung dan mantel? Kalau yang basah cuma pakaian, ya mungkin masih oke, tapi kalau yang basah itu buku, laptop, HP, dll? Apa kabar jadinya? Lalu apakah lebih baik haus atau beli minuman padahal bisa bawa minum sendiri? Saya saja yang sudah bawa minum harus beli minum lagi karena kurang. Hehehe *ukuran botol saya sepertinya harus diupgrade.

Di lain waktu, seorang ibu Jepang yang tinggal di Banda Aceh, di siang terik yang membahana, dengan santai menggunakan payung menjemput anaknya pulang dari TK yang hanya 200 meter dari rumahnya. Jadi, kenapa musti berpanas-panas ria jika bisa menggunakan payung atau membawa kipas?
Dengan berpanas-panas ria, malah ujung-ujungnya kita ngomel panas lah, marah-marah, malas keluar rumah, dll. Jadi tidak bersyukur akan nikmat matahari yang diberikan Allah. *Saya teringat dinginnya udara Seoul di suatu malam yang mematikan, dan baru sadar bahwa nikmat panas matahari di Banda Aceh begitu berharga.

Memang sesuatu baru terasa berharga saat tiada. Jadi,  apa yang ada di depan mata harus disyukuri dengan cara yang cerdas bukan? Mengapa harus malu? Mari bersyukur...^_^


*Salam payung, mantel dan botol minum.... ;D

Wednesday, May 28, 2014

Menggeleng Kepala?

Hanya sebuah tanya:

Saya "mengenal" banyak orang dalam waktu yang cukup lama, yang paling lama mungkin seumur hidup saya. Tapi masih saja ada sisi yang tidak saya kenal, masih ada sisi yang berbeda dan yang yang lainnya. Lalu kenapa bisa seorang begitu yakin hanya dengan sekian detik perjumpaan, beberapa kedip pandangan mata, sekian menit perbincangan atau berlembar-lembar membaca tulisannya?

*Salam Tidak naik pikir....meu asek ule....-__-"

*Meu aseek ulee = mendecak sambil mengelengkan kepala? (Bahasa Aceh)

LAGU = Audio atau Video?

Assalamu'alaikum Minna San.....^_^

Apa yang ada di benak anda saat anda mendengar kata lagu? 
Pilihannya cuma dua, audio atau video?
Anda bebas memilih pilihan mana saja antara audio atau video, kemudia simpan jawaban tersebut dalam benak anda. 

*merasa familiar tidak dengan instruksi ini? Kalau iya, saya tidak sedang main tebak-tebakan sulap kayak di tipi-tipi itu kok. Hahaha.

Saya pribadi akan memilih video. Entah mengapa, setiap kali senang dengan suatu lagu, penasaran dengan suatu lagu, atau apapun terkait lagu, maka hal pertama yang saya lakukan adalah mencarinya di youtube.com. Kenapa? Karena di benak saya lagu itu adalah video. Hehehe.
Saya akan berusaha mencari movie video official dari lagu yang saya ingin dengar, atau mencari fans videonya atau minimal sekali jika tidak ada juga, maka saya akan mencari video lyric-nya. Saya tidak merasa ini adalah hal yang aneh. Hingga suatu hari, saya sadar saat kakak saya meminta file sebuah lagu, maka yang saya punya hanya video, dan yang dimaksud kakak saya adalah versi mp3 nya. Begitupula saat saya meminta file lagu dari teman, yang ia berikan adalah file mp3, padahal dalam benak saya, yang saya inginkan adalah videonya. Setelah saya perhatikan, banyak yang menganggap "lagu" berupa atau berformat audio.

Saya baru ingat, karena saya adalah visual person, makanya saya suka video. Hmm....*elus kumis. Saya akan menjadi sangat bahagia jika semua lagu yang saya cari ada videonya. Hihihiihi.
Ngomong-ngomong soal video. Ada sebuah video lagu yang HANYA saya lihat 2 kali sambil mendengar lagunya. Sisanya, saya memutuskan mendengar tanpa melihat video. Kenapa? Karena videonya amat sangat menguras emosi saya, sedih, senang, keren, kece, suka, terluka, galau dan perasaan gado-gado lainnya. Tapi yang pasti ini video best deh.

Ngomong-ngomong lagi, tidak setiap kali mendengar lagu saya akan pelototin videonya juga, tapi tetap saja saya memutar playlist video saat mendengar lagu walau kadang-kadang tidak melihat videonya. Rasanya tetap berbeda. Saat sebuah lagu yang saya suka videonya terdengar, tidak jarang saya memutuskan untuk melihat lagi videonya. Tapi untuk lagu yang satu ini, cukup 2 kali saja. Satu kali, masi terpana dengan keren dan luar biasa nyesaknya. Yang kedua, baru sadar ini video ngak boleh ditonton untuk ketiga kalinya kalau ngak mau perasaan jadi gado-gado. Hahaha

Lagi ini berjudul "Melted", berbahasa korea dan dibawakan oleh dua orang kakak beradik yang keren banget skill menyanyinya, Akdong Musician (AKMU). Namun, semua aktor videonya diperankan oleh para bule. Awalnya saya kok merasa salah masuk rumah, tapi ternyata tidak. Benar-benar Melted saya dibuatnya. Untuk lirik dan artinya silahkan dicari sendiri. Lagu-lagu lainnya juga keren, dan lucu, silahkan klik di nama di atas.

Berikut link youtubenya, semoga ada manfaat.



Selamat menikmati.
Thanks to Rahmalia yang memperkenalkan saya dengan AKMU... :-*

*Salam Video


Photo: www.facebook.com/AkdongMusiciann



Update:

Tiba-tiba jumpa video yang watchable bangeeet... Ternyataaa adek Sungha Jung yang ganteng cover lagu ini versi gitarnya. Kereeeeen!! Silahkaaan....*Selalu Melted liat orang yang bisa maen gitar. Hohohoho. XOXO





*Salam Melted

Saturday, May 10, 2014

Grrrgegrggrgrgrgrgrh......

Apa itu privasi?
Cari di mbah Google!!
Apa saja yang tergolong privasi, coba cari tau!!!
Saya tidak mengganggu privasi anda, jadi jangan ganggu privasi saya!

Anda melangkah terlalu jauh, saya tidak senang!
Kesal sekali!!
Sampai berhari-hari belum reda.
Apapun alasan anda!
Anda tidak punya hak!
Siapa anda?
Bukan siapa-siapa!!

Thursday, March 13, 2014

Rumah Baru (Dibersihkan) :P

Assalamu'alaikum.....^-^

Selamat dataaang di rumah YotsubaWannabe yang Baru (Dibersihkan)....:D

Jika anda melihat beberapa perubahan selama berkunjung sebelumnya, itu berarti mata anda belum rabun, anda tidak berhalusinasi dan tidak dalam keadaan bermimpi. Memang Blog sederhana ini dalam masa berbenah. Alhamdulillah sudah rampung dibuat baru (dibersihkan). *Kalau yang punya rumah tidak tiba-tiba berubah pikiran. Hehehe.

Dalam proses perubahannya, saya belajar sesuatu: 

"Apa yang saya suka belum tentu baik, indah dan bagus bagi rumah saya, mata saya dan mata pengunjung!"

Kenapa begitu? 

Karena awalnya saya ingin serba hijau (berhubung saya suka Hijau). Tapi kok jadi tidak indah di pandang mata. Kemudian saat mengecat, saya sadar saya juga suka warna Merah dan Kuning. Voila, ternyata bagus dipadankan dengan hijau. *Senaaang.

Kedua, Saya ingin serba clover atau yotsuba. Tapi ternyata background clover yang ada terlalu gelap. Saya gantilah menjadi putih polos. Gambar headernya juga saya ganti dengan gambar menara mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh yang diambil dari taman balok warna di dekat Taman Sari. Jadilah sedikit colourfull.



Ketiga, badan post dan pinggirnya menjadi lebaaaar. Ini agar yang melihat tidak sumpek. Dulunya sih saya maksa kecil biar kelihatan background clovernya. Tenyata, meukeralep (baca: bersarang kecoa) otak saya melihatnya.

Terakhir, ide mengubah rumah ini datang dari perjalanan saya menjelajah blog orang lain yang isinya plong, cantik, simple dan takjub saat pertama melihatnya, sembuh sakit kepala. Maka dari itu, saya pikir mungkin akan lebih baik jika saya bersihkan sedikit rumah saya agar tidak bersemak belukar. Hehehe.

Memang ternyata, semua warna itu indah. Semua bentuk itu indah. Hanya saja, perlu dilihat dan ditimbang komposisinya. Kira-kira posisinya dimana, bentuknya seperti apa, ukurannya sebesar mana, dan kegunaannya untuk apa, semua perlu menjadi pertimbangan. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak serta merta mengatakan "tidak" pada hal baru, mungkin itu lebih baik, lebih menarik, dan lebih oke. So, mari lihat apa-apa yang bisa dibersihkan dan diganti....:D 



*Salam upik abu.


Thursday, March 6, 2014

Tuesday, March 4, 2014

Mudah move on = Tidak Setia?

How much time do you need to move on from someone?

Beberapa kejadian terjadi belakangan ini pada saya. Well, good things and bad things of course! Ada tiga kejadian dalam beberapa bulan ini yang membuat saya sadar akan sesuatu. Ternyata saya adalah orang yang sangat cepat bisa move on. Khususnya untuk human relationship, could be friendship, love, professional ties or else. Wooow. Saya sendiri terkejut. Mengingat saya orang yang sangat cinta mati semangka, yotsuba, sepeda, buku, ayunan, dll. Tidak bisa move on. Sulit sekali!



Wednesday, February 26, 2014

Chef Gagal.... :P

Assalamu'alaikum..... Untuk para Ibu atau siapapun di dunia ini yang sedang mengerjakan tugas domestiknya, Saya do'akan dimudahkan, diberi kesabaran dan diberi kebahagiaan tak terbatas! Amiiiin

Do'a ini dilatarbelakangi oleh kejadian tadi pagi:

Pagi ini mamak saya menelfon. Menanyakan saya dimana. Kemudian menyuruh saya segera pulang. Sekaligus menitahkan saya untuk memasak. Ya! Memasak!! Pasalnya, mamak saya sedang pergi ke dokter mengantarkan nenek saya yang sakit. Ternyata antriannya ramai sekali, sehingga tidak akan sempat memasak untuk makan siang. 


Awalnya hanya dititahkan memasak nasi. Bukan perkara sulit, pikir saya, kan ada magic jar!  Hahaha. Tapi ternyata mamak saya dengan suara meyakinkan menyuruh saya memasak kuah tumis ikan. Saya awalnya santai, sambil bertanya, bumbunya udah ada kan? Tinggal masak saja kan? Ternyata jawabannya belum ada dan saya harus meraciknya sendiri. Apaaaa??? "Kalau rasanya entah kayak apa, terima aja ya?" balas saya. Kemudian tidak hanya itu, mamak saya juga titip agar ikannya juga di goreng beberapa ekor. Telepon pun putus, pulsa saya habis!!

Saturday, February 22, 2014

Misspelling? Dyslexic?


Well, this is what happens to me. I usually do it. Misspelling!!

Dari dulu saya memang punya masalah dengan membaca. Saya pernah dapat nilai merah dalam pelajaran Bahasa Indonesia karena baru kelas 2 (dua) MIN bisa membaca. Itu pun masih tebata-bata. It can’t be helped. So, gurunya mau ngak mau taro saya nilai merah. Saya amnesia bagaimana nilai pelajaran lain ngak merah soalnya saya nilai Bahasa Indonesianya merah karena ngak bisa membaca. Seingat saya, saya bisa mengeja, jadi waktu pelajaran lain yang ada membacanya saya mengeja sekuat tenaga dan sekencang mungkin. Dalam hati I scanned it and understood. Tapi jika disuruh membaca then they would know I can’t do it properly. Saya sadar dari dulu kekurangan saya ini dan try to manage. 

Sekarang setelah kuliah di psikologi saya tau saya ternyata punya masalah dalam membaca dan mengeja, tidak sampai dyslexia sih, hanya lambat saja, kata dosen saya. Saya tau si dosen meringankan diagnosis saya. Well, she can’t belief it. I know from the way she reacted when I said my childhood problem. Well, saat itu mata kuliah kesukaran belajar. Jadi dosennya tanya untuk contoh dan some students told their own problem include me. It looked like I had the worst problem in that class. Maybe she just don't want everyone know it because it is not that bad anymore. Dari banyak membaca saya tau saya punya banyak sekali checklist (klik for the checklist) yes untuk simtomnya. I can’t say I am not a dyslexic one. I deal with it and somehow managed it until now. That is how I can sit in college now bay the way. Hahahha. Untuk Bahasa Indonesia saya banyak banget peningkatan. Paling hanya masalah ‘d’, ‘b’, ‘p’, ‘t’, ‘f’, ‘v’ yang masi jadi masalah sampai sekarang.

Monday, January 27, 2014

Enak = "Enak" ?

Assalamu'alaikum....niatnya mau buat status facebook, tapi kok ya kepanjangan. Akhirnya di blog saja lah.

Ceritanya begini,
Awalnya sih cuma 1 orang, lama kelamaan kok ya jadi banyak yang nanya. 

Adk leting: Kakak ni wisata kuliner ya? Enak kali lah tiap hari wisata kuliner

Saya: Haaa? wisata kuliner? mana da! hahahha

Adk leting: Iyaaa, mana da ngak, itu makanan tiap hari di post.

Saya: Gini, sebenarnya ngak hanya kakak, semua orang termasuk adek biasanya makan 3 x sehari kan? Adek makannya 3 x ngak?

Adk leting: Iya 3 x

Saya: Nah, coba semua makanan yang adek makan difoto, minimal ada 3 foto dalam sehari. Sedangkan kakak, ngak setiap hari kakak post 1 foto. Jadi sejatinya masi banyak makanan yang ngak kakak post.

Adk leting: Iya juga ya. Tapi kakak enak makan enak terus.

Tuesday, December 17, 2013

Bahasa Inggris??


Assalamu'alaikuuuuum....... :D

Glad to meet you again!!


Well,  ngomong-ngomong masalah Bahasa Inggris, dulu pelajaran yang paling tidak saya suka adalah bahasa Inggris. Karena saya tidak pandai dalam pelajaran yang satu ini. Nilai saya sering jelek. Sejak MIN kelas 6 kami mulai diajarkan English mulai dari alfabet dan angka. Saya termasuk yang lama sekali bisa. Masuk MTsN, di kelas 1 guru English saya adalah guru yang hobi bercerita, jadi kalau si ibu udah mulai cerita maka belajar pun cuma sedikit, dan sayapun senaaang....hahahha. karena dari itu saya jadi tidak kentara sekali begonya...wong belajarnya cuma 30 menitan, dikasi catatan abis deh 30 menit. Sisanya ceritaaaaa....:p
Saat ujian, mulailah kelihatan nilai bahasa inggris saya jeblok banget. Si ibu malah sengaja manggil saya dan menanyakan kenapa bisa jelek nilai ujiannya padahal sehari-hari lumayan. Well, saya cuma bisa nyengir sambil bilang bahwa ujiannya sulit bagi saya. Karena nilai pelajaran yang lain cukup baik saya pun masi dapat rangking yang lumayan.

Saat itu, orang tua saya memutuskan memasukkan anak-anaknya ke les bahasa Inggris karena ketidakbisaan orang tua akan bahasa inggris jangan sampai terulang  pada anaknya. Ayah dan ibu saya bukan tipe-tipe yang peduli sekali akan nilai. Jadi tidak ada hubungan sama sekali dengan nilai sekolah.

Saat kelas 2 saya mulai sedikit bisa bahasa inggris akibat les. Saya mulai paham ternyata kelemahan saya adalah di writing (terutama spelling) dan speaking. Kalau urusan reading dan grammar saya mah tok cer setelah les. Akibat kelemahan spelling saya juga jadi terkendala di isian teks rumpang listening. Saya sering keliru menulisnya walau saya tahu kata yang diucapkan. Nilai bahasa inggris kelas 2 saya cuma cukup pas-pasan untuk berhasil naik kelas.

Kelas 3, saya mulai menyukai bahasa inggris. Gurunya menarik dan sangat aktif berbicara bahasa inggris. Dan hei! Ternyata saya dapat memahami dengan baik. Listening teks rumpang bukanlah segalanya. Listeng for someone speaking and understand it is another point of my ability. The teacher know me best because I always listen to him and responded although I am not an excellent student in his class. Well, I started to fall in love with English. Les saya terus berjalan. Ini pun merupakan another plus point yang membuat saya semakin suka dengan bahasa inggris. Ternyata bahasa inggris tidak sulit, saya hanya kurang belajar menerima kekurangan saya di bidang speaking and writing...dan saya malu akan hal tersebut....just as simple as that. Saat itu saya tidak paham bahwa bahasa inggris punya 4 skills that not everyone can master in those skills in one time. Or sometimes just mastering one is enough. I just don't understand that.

Saat SMA, guru saya sangat menarik...saya jadi cukup suka dengan bahasa inggris. Teman sebangku saya pintar bahasa inggris terutama speaking and writing. Dia mengajak saya practice dan membantu saya dalam menulis. Hingga kelas 3 saya suka sekali reading dan listening dalam hal bahasa inggris.

Hingga saat kuliah saya memutuskan untuk mengambil jurusan bahasa Inggris di TEN IAIN Ar Raniry. Karena jurusan favorite saat itu adalah jurusan bahasa Inggris. Setelah alhamdulillah lulus tes, sayapun kuliah di TEN.


Saat kuliah, bahasa Inggris menjadi jauh lebuh menarik. Dosen-dosennya luar bisa dan menarik. Selain itu hobi saya adalah membaca, jadi segala sesuatu hal kesukaan saya biasanya sangat banyak di provide dalam bahasa Inggris jadilah hal ini mengasah kemampuan reading saya.

Setahun kuliah di TEN saya memutuskan untuk mengambil lagi kuliah di jurusan Psikologi Unsyiah. Akhirnya saya lulus dan menjadi mahasiswa di prodi Psikologi Unsyiah. Dan disinilah kemampuan bahasa Inggris yang saya dapat di TEN diasah. Hampir semua materi di psikologi memiliki referensi bahasa Inggris. Sedikit sekali referensi bahasa Indonesia yang tersedia. Jadilah saya lebih sering reading bahasa Inggris di kuliah psikologi.

Saat semester awal perkuliahan, televisi di rumah saya mulai bisa menangkap siaran NHK world. Ini merupakan siaran tv internasional Jepang yang disajikan dalam bahasa Inggris. Berhubung saya freak sekali dengan Jepang, jadilah setiap hari dan setiap waktu luang saya habiskan dengan menatapi layar TV dengan program-program yang disajjkan NHK world. Hal ini terus berjalan selama 3 tahun lamanya. Karena hal ini saya jadi amat terbiasa mendengarkan bahasa Inggris. Ini sangat membantu peningkatan kemampuan listening saya.

Selain menonton untuk melatih listening, sekarang saya juga sudah tidak lagi menggunakan subtitle bahasa Indonesia, film apapun yang saya tonton softcopinya saya usahakan sub Englishnya. Terutama drama Jepang, Korea apalagi Barat. Jadi jika teman-teman saya minta drama pasti subnya English. Saya tidak mau mendonlot sub Indonesia agar teman-teman saya juga ikut menonton dengan sub English. Biar sama-sama belajar. Hal ini sudah berlangsung sekitar 3 tahun. Semua tidak instan, awalnya juga sulit dan harus pause untuk mengecek kosa kata sulit. Namun lama-kelamaan tidak lagi. Semua butuh waktu.

Well, jika sekarang ditanya apakah saya suka bahasa Inggris??  Jawabannya sukaaaa. Ternyata proses menyukai dan bisa itu benar-benar memakan waktu yang sangat lama. Jika ditanya apakah saya pintar bahasa Inggris??  Jawabannya tidaaak...masi jauh dari kata pintar. Saya hanya lumayan bisa di bidang reading and listening. Sisanya biasa saya. Bahkan untuk urusan speaking dan writing masih terbilang sangat buruk. Saya masi harus banyak belajar.

Jika ditanya bagaimana caranya? maka saya akan menjawab, terus berkecimpung di dalam bahasa Inggris, apapun bentuknya. Lebih baik lagi jika menyangkut dengan hal yang kita sukai, kemudian dikaitkan dengan bahasa Inggris. InsyaAllah akan cepat cinta dan bisa. Jika sekarang masih jauh dari kata cinta dan bisa maka jangan putus asa. Terus belajar. Semangat!!

*Salam Belajar Bahasa Inggris..... :D

Friday, August 23, 2013

Menyontek

Beberapa waktu yang lalu, terdengar kabar bahwa paket soal Ujian Akhir Nasional (UAN) akan ditambah menjadi 20 paket. Sudah pasti semua orang dengan profesi apapun akan ribut. Sekolah-sekolah melakukan pengajian bersama, tidak sedikit yang melakukan demo dan menentang adanya UAN, dan hal-hal ajaib lainnya. Satu hal yang menarik perhatian saya hingga akhirnya post ini ditulis adalah: salah satu teman facebok saya (lupa siapa namanya) menshare sebuah foto anak-anak sekolah yang sedang mengerjakan soal ujian, di dalam foto tersebut tertulis tentang bertambahnya paket soal ujian. Saat menshare foto ini ia menulis sebuah kalimat yang menurut saya terdapat pengakuan secara tidak langsung, isi tulisannya kurang lebih bermakna bahwa ia bersyukur saat ia ujian dulu, paket soal tidak sebanyak itu. Seingat saya, saat saya UAN MAN terdapat dua paket soal, mungkin pada masa adik ini paketnya bisa edisi 4 paket atau edisi 6 paket, saya kurang tau.

Yang menggelitik saya adalah kata-kata yang ia tuliskan, ia bersyukur akan paket yang sedikit. Secara korelasi, tidak ada hubungan antara jumlah paket dengan besarnya peluang ia lulus UAN. Setiap paket soal UAN dibuat dengan taraf kesulitan dan jenis yang sama, hanya dengan sedikit variasi angka, subjek, pilihan jawaban, dll. atau, hanya ditukar-tukar nomor soalnya. Hal ini saya ketahui dari Tim pembuat soal UAN. Jadi jika ia memang punya kemampuan yang cukup untuk lulus, maka ia akan dapat menjawab soal-soal UAN tersebut, paket manapun yang ia dapat bukan masalah.

Tapi lain ceritanya jika terjadi penyimpangan, misalnya: menyontek, soal yang bocor, tersebarnya kunci jawaban, dll. Maka akan ada korelasi antara jumlah paket soal dengan besarnya peluang lulus UAN. Mengapa? Karena jika ia menyontek, maka orang yang dia contek atau mintai jawabannya belum tentu sepaket dengan dia. Jika soalnya bocor, maka belum tentu soal yang ia dapat adalah soal yang bocor, kalaupun benar soal yang sama, maka ada 20 paket yang harus ia selesaikan. Jika tersebar kunci jawaban, maka akan banyak sekali kunci jawaban yang beredar, belum tentu semua paket ia punya kunci jawabannya. Semakin banyak paket semakin kecil peluang keberhasilan melakukan kecurangan.



Tuesday, August 13, 2013

Sebuah Paragraf....

Yaaa.....sebuah paragraf yang mampu membuat saya sontak bangun, terduduk tegak sambil membaca kembali paragraf itu. Well, saya terbiasa membaca sambil tiduran yang tidak sehat, jangan ditiru! Kebiasaan ini tidak baik, dan hanya bagian-bagian bacaan tertentu yang mampu membuat saya bangkit duduk tegak dan membaca sisa tulisan/buku/novel dengan posisi terduduk dengan kepala tertekuk. Begitu selesai, saya sadar, leher saya sakit akibat duduk terlalu lama dengan posisi kepala tertekuk menatap lembar demi lembar hingga selesai. Hal ini jarang terjadi, kecuali untuk bagian-bagian terbaik, menegangkan, dan luar biasa dari sebuah buku. Bagian lain sisanya? tiduran!

Dan paragraf berikut membuat saya terduduk, padahal cerita keseluruhan dari salah satu cerpen buku "Madre" karya Dee ini biasa saja. Malah cerpen utama yang berjudul Madre jauh lebih menarik. Cerpen biasa saja ini berjudul "Have you Ever?" tapi sebuah paragraf darinya membuat saya bangkit dan ber- "Eeeeee?" panjang.
"Dua minggu yang lalu, sepucuk surat sepanjang tiga halaman sampai ke tanganku, diantarkan langsung oleh penulisnya. Seorang perempuan yang baru kukenal sebulan. Namanya Intan Cahaya. Semua orang memanggilnya Intan. Tapi aku refleks memanggilnya Cahaya. Ia bertanya alasannya. Jujur, kujawab "tidak tahu". Bagiku, dia Cahaya. Titik."
Akhir dari paragraf ini membuat saya de javu. Dan benar saja, bayangan saya kembali dimana saya membaca tulisan yang sama namun untuk nama yang berbeda, yup, nama saya. seseorang mengatakan hal yang hampir sama. Saat itu, saya merasa perkataan itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya hanya berkomentar, "Orang pinter memang kelakuannya suka aneh-aneh". dan dijawab dengan satu kata, "Biarin". Hahahaha. Dia dengan mudahnya memanggil saya dengan nama berbeda. Ketika saya harus beradaptasi, dia sudah seperti menyebutnya bertahun-tahun tanpa canggung. Ckckckc.

Setelah membaca paragraf ini, I wonder, did he ever read this book? Maybe yes, maybe no. Hahahha....

Walaupun secara keseluruhan, cerita cerpen itu tidak ada mirip-miripnya sedikitpun dengan keadaan, kondisi atau cerita tokoh utamanya dengan kami, tapi paragraf itu jelas mirip sekali.

*Salam De Javu

Arigatou.. Visit Again Yaa... ~