Showing posts with label Bacaan Yotsuba. Show all posts
Showing posts with label Bacaan Yotsuba. Show all posts

Sunday, March 29, 2015

Ini Dan Itu Maka.....

Ini dan itu maka Wawawa......Hahahaha

Wawawa moment adalah momen dimana saat saya sedang membaca sebuah tulisan, lalu kemudian secara tiba-tiba ilmu discourse analysis dan ilmu psychology keluar barengan, hasilnya adalah pura-pura gila aja. Hahahaha. A simple post that should make me smile brightly turn into a complicated writing. Tulisan ini malah membuat saya jadi tertawa terbahak dan berkerut-kerut kening tidak karuan. Hingga akhirnya saya memutuskan "Wawawa" alias pura-pura gila dan ngak paham untuk bisa tersenyum panjang kalau ingat post yang satu itu.

Gara-gara kejadian kali ini, saya jadi teringat petuah dosen penguji sidang skripsi saya. Tepat setelah selesai sidang skripsi, si ibu bilang pada saya, "Juza, setelah ini rencananya apa?" Saya menjawab beberapa hal yang ada dalam pikiran saya, tentunya tentang rencana masa depan saya. Kemudian si Ibu mengeluarkan pernyataan yang membuat saya dan teman-teman yang menunggu saya di luar ruangan sidang terkejut. "Anak Psikologi bagusnya menikah sebelum mengambil S2", begitu kata si Ibu, Kami kontan bertanya, lho, kenapa? Ibu penguji saya menjelaskan karena kalau sudah S2, tambah banyak ilmu psikologinya, semakin banyak juga hal yang nantinya jadi pertimbangan. Karena keliatan calonnya begini dan begitu. Sontak kami ber Oo ria dan tertawa bersama-sama.

Benar saja, kalau sekarang baru S1 Psikologi, ditambah ilmu discouse dari perkuliahan saya di Bahasa Inggris bisa membuat hal sepele seperti membaca aja jadi complicated, belum lagi hal-hal lainnya. Well, tapi apapun itu, kembali lagi ke diri masing-masing. Semoga saya dijauhkan dari sikap-sikap menghakimi, sok tau dan sok paham yang biasanya kerap menyerang para individu yang berkecimpung di dunia Psikologi. Amiiin XD

*Salam Psikoogi.....^-^

Tuesday, December 17, 2013

Bahasa Inggris??


Assalamu'alaikuuuuum....... :D

Glad to meet you again!!


Well,  ngomong-ngomong masalah Bahasa Inggris, dulu pelajaran yang paling tidak saya suka adalah bahasa Inggris. Karena saya tidak pandai dalam pelajaran yang satu ini. Nilai saya sering jelek. Sejak MIN kelas 6 kami mulai diajarkan English mulai dari alfabet dan angka. Saya termasuk yang lama sekali bisa. Masuk MTsN, di kelas 1 guru English saya adalah guru yang hobi bercerita, jadi kalau si ibu udah mulai cerita maka belajar pun cuma sedikit, dan sayapun senaaang....hahahha. karena dari itu saya jadi tidak kentara sekali begonya...wong belajarnya cuma 30 menitan, dikasi catatan abis deh 30 menit. Sisanya ceritaaaaa....:p
Saat ujian, mulailah kelihatan nilai bahasa inggris saya jeblok banget. Si ibu malah sengaja manggil saya dan menanyakan kenapa bisa jelek nilai ujiannya padahal sehari-hari lumayan. Well, saya cuma bisa nyengir sambil bilang bahwa ujiannya sulit bagi saya. Karena nilai pelajaran yang lain cukup baik saya pun masi dapat rangking yang lumayan.

Saat itu, orang tua saya memutuskan memasukkan anak-anaknya ke les bahasa Inggris karena ketidakbisaan orang tua akan bahasa inggris jangan sampai terulang  pada anaknya. Ayah dan ibu saya bukan tipe-tipe yang peduli sekali akan nilai. Jadi tidak ada hubungan sama sekali dengan nilai sekolah.

Saat kelas 2 saya mulai sedikit bisa bahasa inggris akibat les. Saya mulai paham ternyata kelemahan saya adalah di writing (terutama spelling) dan speaking. Kalau urusan reading dan grammar saya mah tok cer setelah les. Akibat kelemahan spelling saya juga jadi terkendala di isian teks rumpang listening. Saya sering keliru menulisnya walau saya tahu kata yang diucapkan. Nilai bahasa inggris kelas 2 saya cuma cukup pas-pasan untuk berhasil naik kelas.

Kelas 3, saya mulai menyukai bahasa inggris. Gurunya menarik dan sangat aktif berbicara bahasa inggris. Dan hei! Ternyata saya dapat memahami dengan baik. Listening teks rumpang bukanlah segalanya. Listeng for someone speaking and understand it is another point of my ability. The teacher know me best because I always listen to him and responded although I am not an excellent student in his class. Well, I started to fall in love with English. Les saya terus berjalan. Ini pun merupakan another plus point yang membuat saya semakin suka dengan bahasa inggris. Ternyata bahasa inggris tidak sulit, saya hanya kurang belajar menerima kekurangan saya di bidang speaking and writing...dan saya malu akan hal tersebut....just as simple as that. Saat itu saya tidak paham bahwa bahasa inggris punya 4 skills that not everyone can master in those skills in one time. Or sometimes just mastering one is enough. I just don't understand that.

Saat SMA, guru saya sangat menarik...saya jadi cukup suka dengan bahasa inggris. Teman sebangku saya pintar bahasa inggris terutama speaking and writing. Dia mengajak saya practice dan membantu saya dalam menulis. Hingga kelas 3 saya suka sekali reading dan listening dalam hal bahasa inggris.

Hingga saat kuliah saya memutuskan untuk mengambil jurusan bahasa Inggris di TEN IAIN Ar Raniry. Karena jurusan favorite saat itu adalah jurusan bahasa Inggris. Setelah alhamdulillah lulus tes, sayapun kuliah di TEN.


Saat kuliah, bahasa Inggris menjadi jauh lebuh menarik. Dosen-dosennya luar bisa dan menarik. Selain itu hobi saya adalah membaca, jadi segala sesuatu hal kesukaan saya biasanya sangat banyak di provide dalam bahasa Inggris jadilah hal ini mengasah kemampuan reading saya.

Setahun kuliah di TEN saya memutuskan untuk mengambil lagi kuliah di jurusan Psikologi Unsyiah. Akhirnya saya lulus dan menjadi mahasiswa di prodi Psikologi Unsyiah. Dan disinilah kemampuan bahasa Inggris yang saya dapat di TEN diasah. Hampir semua materi di psikologi memiliki referensi bahasa Inggris. Sedikit sekali referensi bahasa Indonesia yang tersedia. Jadilah saya lebih sering reading bahasa Inggris di kuliah psikologi.

Saat semester awal perkuliahan, televisi di rumah saya mulai bisa menangkap siaran NHK world. Ini merupakan siaran tv internasional Jepang yang disajikan dalam bahasa Inggris. Berhubung saya freak sekali dengan Jepang, jadilah setiap hari dan setiap waktu luang saya habiskan dengan menatapi layar TV dengan program-program yang disajjkan NHK world. Hal ini terus berjalan selama 3 tahun lamanya. Karena hal ini saya jadi amat terbiasa mendengarkan bahasa Inggris. Ini sangat membantu peningkatan kemampuan listening saya.

Selain menonton untuk melatih listening, sekarang saya juga sudah tidak lagi menggunakan subtitle bahasa Indonesia, film apapun yang saya tonton softcopinya saya usahakan sub Englishnya. Terutama drama Jepang, Korea apalagi Barat. Jadi jika teman-teman saya minta drama pasti subnya English. Saya tidak mau mendonlot sub Indonesia agar teman-teman saya juga ikut menonton dengan sub English. Biar sama-sama belajar. Hal ini sudah berlangsung sekitar 3 tahun. Semua tidak instan, awalnya juga sulit dan harus pause untuk mengecek kosa kata sulit. Namun lama-kelamaan tidak lagi. Semua butuh waktu.

Well, jika sekarang ditanya apakah saya suka bahasa Inggris??  Jawabannya sukaaaa. Ternyata proses menyukai dan bisa itu benar-benar memakan waktu yang sangat lama. Jika ditanya apakah saya pintar bahasa Inggris??  Jawabannya tidaaak...masi jauh dari kata pintar. Saya hanya lumayan bisa di bidang reading and listening. Sisanya biasa saya. Bahkan untuk urusan speaking dan writing masih terbilang sangat buruk. Saya masi harus banyak belajar.

Jika ditanya bagaimana caranya? maka saya akan menjawab, terus berkecimpung di dalam bahasa Inggris, apapun bentuknya. Lebih baik lagi jika menyangkut dengan hal yang kita sukai, kemudian dikaitkan dengan bahasa Inggris. InsyaAllah akan cepat cinta dan bisa. Jika sekarang masih jauh dari kata cinta dan bisa maka jangan putus asa. Terus belajar. Semangat!!

*Salam Belajar Bahasa Inggris..... :D

Tuesday, August 13, 2013

Sebuah Paragraf....

Yaaa.....sebuah paragraf yang mampu membuat saya sontak bangun, terduduk tegak sambil membaca kembali paragraf itu. Well, saya terbiasa membaca sambil tiduran yang tidak sehat, jangan ditiru! Kebiasaan ini tidak baik, dan hanya bagian-bagian bacaan tertentu yang mampu membuat saya bangkit duduk tegak dan membaca sisa tulisan/buku/novel dengan posisi terduduk dengan kepala tertekuk. Begitu selesai, saya sadar, leher saya sakit akibat duduk terlalu lama dengan posisi kepala tertekuk menatap lembar demi lembar hingga selesai. Hal ini jarang terjadi, kecuali untuk bagian-bagian terbaik, menegangkan, dan luar biasa dari sebuah buku. Bagian lain sisanya? tiduran!

Dan paragraf berikut membuat saya terduduk, padahal cerita keseluruhan dari salah satu cerpen buku "Madre" karya Dee ini biasa saja. Malah cerpen utama yang berjudul Madre jauh lebih menarik. Cerpen biasa saja ini berjudul "Have you Ever?" tapi sebuah paragraf darinya membuat saya bangkit dan ber- "Eeeeee?" panjang.
"Dua minggu yang lalu, sepucuk surat sepanjang tiga halaman sampai ke tanganku, diantarkan langsung oleh penulisnya. Seorang perempuan yang baru kukenal sebulan. Namanya Intan Cahaya. Semua orang memanggilnya Intan. Tapi aku refleks memanggilnya Cahaya. Ia bertanya alasannya. Jujur, kujawab "tidak tahu". Bagiku, dia Cahaya. Titik."
Akhir dari paragraf ini membuat saya de javu. Dan benar saja, bayangan saya kembali dimana saya membaca tulisan yang sama namun untuk nama yang berbeda, yup, nama saya. seseorang mengatakan hal yang hampir sama. Saat itu, saya merasa perkataan itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya hanya berkomentar, "Orang pinter memang kelakuannya suka aneh-aneh". dan dijawab dengan satu kata, "Biarin". Hahahaha. Dia dengan mudahnya memanggil saya dengan nama berbeda. Ketika saya harus beradaptasi, dia sudah seperti menyebutnya bertahun-tahun tanpa canggung. Ckckckc.

Setelah membaca paragraf ini, I wonder, did he ever read this book? Maybe yes, maybe no. Hahahha....

Walaupun secara keseluruhan, cerita cerpen itu tidak ada mirip-miripnya sedikitpun dengan keadaan, kondisi atau cerita tokoh utamanya dengan kami, tapi paragraf itu jelas mirip sekali.

*Salam De Javu

Tuesday, November 23, 2010

Rembulan Tenggelam di Wajahmu. By: Tere Liye

Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Novel luar biasa karya Tere Liye. Seperti karya-karya sebelumnya selalu ada hal yang membuat saya merenung memikirkan isi novel karya Tere Liye. Karena tak hanya sekedar cerita tapi saya lebih menganggapnya pelajaran hidup. Saya adalah orang yang sangat menggilai buku tapi amat sangat jarang membeli buku. Saya hanya akan membeli buku-buku atau komik yang sangat bagus menurut saya. Bagus ini pun bukan hanya sekedar sesaat, tapi bagus dalam arti jika saya punya keluarga, sodara, kawan, bahkan anak dan cucu saya nanti layak membaca buku-buku yang saya anggap bagus ini. Namun untuk karya-karya Tere Liye merupakan pengecualian, tidak perlu rekomendasi terhadap tiap judulnya, asalkan pengarangnya Tere Liye saya pasti beli. Tak jarang saya lupa bawa duit, karena memang hanya berniat cuci mata, saat saya melihat buku Tere Liye maka saya akan menitipkan itu buku ke kasir dan bilang, "Bang, saya beli buku ini tapi tunggu bentar ya, saya pulang ambil duit". Si abang cuma terbengong-bengong dan menggerakkan kepalanya tanda mengangguk. Aha, saya lupa, ini bukan toko buku langganan saya, mereka belum terbiasa. Namun kunjungan ke dua saya ke toko itu mereka hanya tertawa menyambut saya. Keanehan saya inilah alasan pertama anda harus baca bukunya Tere Liye. Ingin pinjam? Hubungi saya? Karena membaca tak harus membeli, keep reading guys...

Kembali pada novel berjudul di atas...
Novel ini mengisahkan kisah perjalanan Ray mendapatkan 5 jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupnya. Langit berbaik hati menjelaskan ke 5 jawaban atas pertanyaannya. Dalam perjalanannya mendapat jawaban itu ia ditemani oleh Orang Dengan Wajah Menyenangkan. Kisah ini diawali dengan tangis Rinai, gadis malang penghuni panti asuhan, di malam karnaval hari raya, malam takbiran. Di tempat yang sama namun pada dimensi yang berbeda, seorang bernama Ray, pasien yang berumur enam puluh tahun, dan Orang Dengan Wajah Menyenangkan menemaninya. Orang Dengan Wajah Menyenangkan memulai tugasnya, membantu langit menjelaskan pada Ray jawaban atas lima pertanyaan besarnya. Mengapa ia harus tinggal di panti yang penjaga pantinya sok suci itu? Apakah hidup ini adil? Kenapa langit tega mengambil istrinya? setelah memiliki segalanya, kenapa ia merasa hampa dan kosong? mengapa ia harus mengalami sakit yang berkepanjangan?
Itulah lima pertanyaan Ray. Jalan hidupnya ternyata menjadi jawaban atas lima pertanyaan lain dari penjaga panti, Diar, Plee, dan orang-orang di sekelilingnya...dan Rinai adalah salah satu jawaban atas pertanyaannya. Semua peristiwa besar atas jawaban itu terjadi pada malam karnaval hari raya, malam takbiran.

Tahukah anda? Saya selesai membaca novel ini tepat pada malam takbiran, ketika karnaval hari raya Idul Adha berlangsung. Buku itu telah amat lama saya beli namun baru sempat membacanya beberapa minggu sebelum lebaran. Novel yang membutuhkan waktu lama menamatkannya, bukan karena tak ada waktu membaca tapi karena isinya yang membuat saya berfikir keras tentang diri saya sendiri. Selesai dengan pikiran-pikiran itu, bahkan tak jarang tak membuahkan jawab, barulah saya bisa melanjutkan bacaan saya. Jika tidak begitu, maka serasa capung berterbangan memenuhi otak saya. Tak terbayangkan jumlahnya jika saya usir saat khatam membacanya.
Namun kepenuhan capung ini tak berarti novel ini rumit, tak dapat dipahami atau sebagainya. Novel ini hanya membuat saya berfikir. Itu saja. Masalah saya menamatkannya pada malam takbiran, langit punya jawabannya. Saya hanya bisa melongo malam itu. Suara takbir sahut-sahutan dari kejauhan, tak perduli apa yang terjadi.

Sinopsis pendek di belakang sampul buku ini tertulis: "di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. maka mulailah membaca dengan menghela napas lega". Namun sungguh setelah helaan napas lega itu tak akan ada lagi yang kedua, saya menghela napas dengan tercekat bahkan kadang tertahan bak disumpal hidung saya. tidak hanya membaca kisah Ray, tapi saya juga menjadi berpikir tentang hidup saya. Berulang, disetiap sub bab, di setiap petikan kisah. Tak henti seolah hujan terus mengguyur di musim penghujan, mata tak kering dari air bening sedikit asin yang terkadang bermuara di mulut. Begitu banyak penanda halaman yang saya buat di novel ini (tanda terbanyak hingga hari ini saya membaca novel).
Setelah membaca novel ini saya berfikir, apakah langit akan berbaik hati memberi jawaban atas lima pertanyaan besar saya? namun paragraf dalam novel ini menjawabnya: "...tentang berbagai bagian yang tidak dijelaskan, semoga langit berbaik hati memberi tahu. Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Yakinlah dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat pada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri".
Saya berdo'a agar saya dibimbing ke arah yang terbaik oleh Pencipta langit dan diberikan jawaban terbaik dari 'tahu' itu sendiri. Amiin...>.<

Saya memberi bintang 5 (lima) untuk novel ini. Bintang besar kalau ada...hehehe.

Arigatou.. Visit Again Yaa... ~