Wednesday, January 26, 2011

Sabang On Vacation....Part 1


Hei...Hei...Hei... Assalamu'alaikum...^_^
Alhamdulillah liburan semester kali ini ammmaaat menyenangkan. Pasalnya saya bisa berlibur ke Sabang dengan teman-teman menggila Les Bahasa Jepang. Kenapa disebut teman-teman menggila Les Bahasa Jepang? Baca Disini. Sebenarnya ini kali ke dua saya ke Sabang, yang pertama pas saya kelas enam MIN, tapi lupa daerah Sabang dan nggak banyak jalan-jalan, hehehe.

Kali ini kami ke Sabang dalam rangka liburan yang telah amat sangat lama dinanti tapi perginya amat sangat tidak direncanakan. Hhehehe. Aneh? Memang. Awalnya kami memang berniat ke Sabang jauh-jauh bulan sebelumnya. Tapi karena k'Mutia dan k'Irma kerja, Oya dan Saya kuliah, dan k'Anggun sibuk dengan bisnisnya, jadilah ngak jadi-jadi dan tertunda. Alhamdulillah pas suatu ketika...yaitu tgl. 20-21 Januari 2011 k'Irma ada tugas kerja ke Sabang, dan disaat yang sama saya dan Oya libur kuliah dan k'Anggun baru aja dapat order besar, tapi sayangnya k'Mutia tidak libur dan Cuex tidak diizinkan sama ortunya sedangkan k'Rahmi sudah pindah. Jadilah, Bismillah, kami berangkat berempat saja.

Kami memilih kapal cepat sebagai alat transportasi menuju Sabang. k'Irma berangkat dengan kapal pagi karena tugas, sedangkan saya, Oya n k'Anggun berangkat kapal sore. Masalah kapal, sebenarnya ada dua alternatif:
1. kapal lambat (perjalanan selama 2 jam)
  • kelas ekonomi sekitar Rp 18.000 (untuk dewasa)
  • kelas eksekutif sekitar Rp 36.000 (untuk dewasa)
Ada tiket untuk anak-anak juga dengan harga yang lebih murah dan di antara kelas ekonomi n kelas eksekutif, juga ada kelas bisnis n kelas apa gitu saya lupa dengan kisaran harga antara dua kelas tersebut. Juga ada harga tiket untuk kendaraan jika anda ingin membawa kendaraan. tapi saya lupa kisaran harganya.
2. kapal cepat (perjalanan selama 45 menit)
  • kelas ekonomi sekitar Rp 55.000 
  • kelas bisnis ber-AC sekitar Rp 65.000
  • kelas eksekutif ber-AC sekitar Rp 80.000
Dengan kapal cepat anda tidak bisa membawa kendaraan pribadi.
Kapal cepat dan kapal lambat dalam sehari beroperasi sebanyak 2 kali (pagi dan siang/sore). tergantung kapal cepat/ kapal lambat dan tegantung dari Banda Aceh-Sabang atau Sabang-Banda Aceh. Informasi lebih lanju silahkan mengunjungi pelabuhan Ulee Lhee. Oiya, jangan lupa di tempat beli tike minta tourism map (kami dapat yg dari toko Piyoh) bagus n berguna banget nih benda, walau kecil.
 Kami saat di pelabuhan sebelum berangkat. Ada bule baik hati yang mau fotoin.

Sebenarnya kami ingin menghemat biaya transport dengan memilih kapal lambat n menikmati perjalanan, hanya saja mengingat kondisi mabuk laut yang akan terjadi pada kami bertiga maka kami memilih untuk tidak ambil resiko tumbang sebelum berlibur. Hihihi. Ketika kami naik kapal cepat kami makan chitato family pack bertiga dan pas chitatonya habis, eh tau-tau sudah sampai Sabang, cepat kan. Hehehe...gak bermaksud iklan, cuma kami shock aja kok bisa cepat banget.

Bagi anda yang ingin berlibur ke Sabang dan menderita mabuk laut yang parah, sebaiknya naik kapal cepat. Selain itu, saya pribadi lebih suka di bagian belakang atas yang langsung bisa melihat laut (kalau mau bagian belakang sebaiknya lebih cepat masuk ke kapal dan ambil tempat strategis, soalnya biasa rame yang mau di atas bagian belakang ini, jadi bangku yang cuma dikit bakal jadi rebutan, atau anda suka berdiri juga oke. Tapi kalo anda berangkat siang hari agak panas. Jadi siapkan sunblock.

Sesampai di sana akan banyak angkutan umum (L 300) yang bersedia ngantarin kalian ke tempat penginapan, kalo masih belum punya target pak supirnya juga bisa dimintai tolong memberikan alternatif (kasi tau berapa harga hotel/penginapan yang kita mau n apakah mau di kota atau di dekat laut). Biasanya ongkos mobilnya sekitar Rp 15.000 tapi jika kalian milih penginapan yang jauh mungkin bisa lebih mahal dikit.

Kebetulan k'Anggun punya kenalan yang tinggal di Sabang, jadi saat itu kami udah ada mobil yang bakal kami sewa untuk liburan kami. Tetap dijemput ke pelabuhan Balohan dengan mobil si Bapak. Alhamdulillah kami diantar ke penginapan (harganya cuma Rp 10.000, soalnya kami bakal sewa mobil'a untuk beberapa hari).

Masalah mobil, kami memang tidak membawa kendaraan pribadi, selain nggak tau jalan daerah sabang dan memang tidak memungkinkan. Jadi dari kenalan k'Anggun kami ditawari mobil sewa. Kisaran harganya 400-500rb perhari. Kalau 400rb mobilnya lumayan tapi gak sebagus yang 500rb (pake AC). Itu hanya harinya saja, jika mau jalan-jalan malam maka ada tambahan biaya. Saya sarankan untuk memastikan kendaraan sebelum anda berangkat, kalau punya kenalan lebih mudah meminta bantuan booking mobilnnya. Tapi jika tidak, cari mobil setelah sampai disana juga bisa. Perlu diperhatikan bahwa disana tidak ada kendaraan umum seperti labi-labi, sudako, dll. Yang ada hanya L300 yang merupakan kendaraan umum yang beroperasi jika ada kapal masuk. Selebihnya mereka memakai sistem sewa. Mobil L300 ini nyaman ditumpangi untuk 9-10 orang, jadi jika kalian mau irit carilah teman sebanyak itu untuk sama-sama ke Sabang. Kalau kurang dari itu maka patung-patungan harga mobilnya jadi lebih besar per orangnya.

Alhamdulillah kami dapat bapak supir yang amat sangat baik. Hehehe...kami sewa mobil seharga 400rb perhari dan kami dapat bonus jalan-jalan malam hari tanpa biaya tambahan. Kata si bapak sih karena memang lagi tidak begitu ramai tamu alias pengunjung kota Sabang. Selain itu, si Bapak juga sabar banget, kalau kami mau ke suatu tempat maka si bapak akan mutar-mutar dulu daerah itu biar kami bisa liat semua n milih yang mana mau disinggahi (biasanya sih tempat makan n belanja). Selalu saat belanja dibawa ke tempat yang murah dan bagus (kebutuhan sehari-hari n oleh-oleh). Kalau masalah jalan-jalan, kami mengambil panduan tourism map yang kami minta di pelabuhan Ulee Lhee. Kami tinggal tunjuk peta mau ke mana, maka kami akan diantar oleh si bapak. Karena perjalanannya jauh sewaktu jalan-jalan, bagi yang mabuk kendaraan darat disarankan minum obat anti muntah. Kalau tidak gak bakal seru deh jalan-jalannya.
Ini dia kendaraan yang kami tumpangi selama mengelilingi Sabang...^_^

Masalah penginapan Alhamdulillah kami dapat yang bagus dengan harga yang cukup lumayan. Kami menginap di daerah Tapak Gajah dan nama penginapannya juga Tapak Gajah, permalam 125rb (ber-AC, TV, 2 single Bed). Yang saya suka dari penginapan ini selain bersih adalah rasa kekeluargaannya n moto nya bagus banget, "Bisnis Sambil Beramal". Selain dekat dengan kota juga dekat dengan laut. Malah bapak pemilik penginapannya meminta kami tuk menganggap'a sebagai bapak angkat. Keren deh pokok'a.

Kami di depan penginapan
Pemandangan dari atas penginapan (kami menginap di lantai 2 penginapan yang berbentuk ruko ini)

Nah kalau masalah belanja, snack (agak mahalan dikiiiiit dari Banda Aceh, nggak banyak kok), oleh-oleh (tergantung oleh-oleh, kalau makanan, kue n dodol khas Sabang jelas di Sabang lebih murah, kalau mau belanja aksesoris tergantung tempat, rajin-rajinlah jalan-jalan, ada yang murah ada yang mahal). Lebih baik tanya sama si Bapak supir kisaran harga oleh-oleh, khususnya makanan atau baju. Kalau masalah makanan, yang mahal itu daging (baik ayam maupun sapi), ikan lebih murah.

Kami di Sabang dari kamis sore hingga siang minggu. dan jalan-jalan ke tempat wisatanya makan waktu dua hari. Karena hari pertama jalan-jalan kami adalah hari jum'at, maka kami memilih tempat-tempat yang lebih dekat ke penginapan. Rutenya adalah sebagai berikut:

Jum'at pagi: 
  • Japaness Fortress (Benteng peninggalan jepang)

Benteng yang paling atas

Benteng bagian bawah melewati jalan memutar

 Pemandangan dari sana bagus sekali. Tebing'a tinggi sekaliii n pemandangannya luar biasa indah
  • Anoi Itam Beach (pantai pasir hitam)

Pantainya indah

Pasirnya hitam sangat

Hitam Berkilau (kami bawa pulang lho...Hihihi)
  • Sumur Tiga Beach (Pantai Sumur Tiga)
Pantainya indah dan bersih sekali, tidak banyak karang, cocok untuk mandi laut

Di sepanjang pantai ada 3 sumur seperti ini, jaraknya agak berjauhan

Pemandangan di dekat Cottage Fredy's. Masih daerah sumur 3. Kami numpang foto, Hihihi
  • Taman Ria Sabang
Tamannya bagus terutama buat foto-foto.
  • Taman Dekat Taman Ria
Pemandangannya bagus banget, bisa melihat pemandangan kota dan laut
  • Supermarket
Tempatnya luas, bentuknya menyerupai gudang yang dindingnya terbuat dari seng tebal.


Itu semua habis dikunjungi selama setengah hari jum'at, karena udah waktu jum'at maka kami beli nasi dan kembali ke penginapan. Sengaja saya jelaskan secara mendetail karena saat kami mau kesabang kami sedikit susah mendapatkan informasi komplit, jadinya dari si A sepotong, dari si B sepotong. Semoga post ini membantu kalian semua yang hendak atau berniat jalan-jalan ke Sabang. Mari ikut meriahkan visit Aceh Year 2011...
Cerita jalan-jalan habis jum'at kita lanjutin di Part 2 yaaa. See You...^_^

Saturday, December 4, 2010

Belajar Dari Siapa Saja Lagi...

Hari ini saya disadarkan betapa saya amat jarang bersyukur...betapa tidak, saya jarang menyadari bahwa apa2 yang saya miliki adalah anugrah Allah sekecil apapun itu.

Jadi ceritanya, kakak saya beli tas baru, cantik dan imut. Tas itu bermotifkan kulit lembu eh salah...sapi, hitam putih. Saat saya lihat, saya langsung berseru, "Cantiiiik, berapa beli?"
hehehe...

Tak selang berapa lama mamak saya masuk dan melihat tas itu terus berseru, "Alhamdulillah, cantiknya..." dan saya pun bingung.
"Mak, kok? Ini bukan hadiah orang tapi dia beli sendiri." Bingung saya terutarakan.
"Iya, mamak tau, tapi kan itu tas baru, cantik lagi, ya Alhamdulillah lah", entengnya mamak saya menjawab.

Ya Allah... benar sekali apa kata mamak saya, kenapa saya luput dari hal sebesar itu? Bersyukur!
Bukankah saya harus bersyukur atas apa2 yang saya peroleh? memangnya hanya hadiah dan pemberian orang saja yang anugerah Allah? kan apa2 yang kita miliki walau dengan membelinya juga anugerah Allah yang tiada tara besarnya? Pertanyaan2 itu menyerbu otak saya tanpa ampun. Betapa saya lalai dari bersyukur...T.T

Di luar sana bahkan orang tak punya sebutir nasi untuk dimakan, sebulir air tuk diminum, apalagi sebatang pensil patah nan usang tuk menulis. Benar-benar kealpaan saya yang tak bisa saya maafkan. Kepemilikan yang sebenarnya hanya pinjaman Allah tuk dijaga. 

Saat kemarin kuliah Psikologi Industri, kelas kami membahas tentang harga 2.000 rupiah untuk membeli sebuah pulpen yang selalu hilang tak berujung rimba, hingga harus membelinya lagi. Ternyata semua mahasiswa di kelas mengalaminya. Semua tertawa dan bilang, "untung harganya murah hanya 2 ribu", kemudian tertawa terbahak. Saat itu saya ikut tertawa dengan entengnya. Astaghfirullah...

Ya Allah...ternyata hari ini saya diberi kesadaran tentang apa yang saya tertawakan kemarin...makna murah, memiliki dan bersyukur. Terima kasih Ya Allah atas peringatan ini. Semoga sebersit cahaya ini tak hanya menyadarkan saya seminggu. Amat sangat berharap tiada terkira. Amiiin...>.<

Ini adalah sebuah slide show yang AMAT SANGAT BAGUS yang telah saya lihat bertahun2 yang lalu. Sempat terlupakan. Saya buka kembali dan semoga saya bisa terus memiliki suasana hati ini...AMIIN...T.T

download di sini!
Semoga Bermanfaat....^_^

Tuesday, November 23, 2010

Rembulan Tenggelam di Wajahmu. By: Tere Liye

Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Novel luar biasa karya Tere Liye. Seperti karya-karya sebelumnya selalu ada hal yang membuat saya merenung memikirkan isi novel karya Tere Liye. Karena tak hanya sekedar cerita tapi saya lebih menganggapnya pelajaran hidup. Saya adalah orang yang sangat menggilai buku tapi amat sangat jarang membeli buku. Saya hanya akan membeli buku-buku atau komik yang sangat bagus menurut saya. Bagus ini pun bukan hanya sekedar sesaat, tapi bagus dalam arti jika saya punya keluarga, sodara, kawan, bahkan anak dan cucu saya nanti layak membaca buku-buku yang saya anggap bagus ini. Namun untuk karya-karya Tere Liye merupakan pengecualian, tidak perlu rekomendasi terhadap tiap judulnya, asalkan pengarangnya Tere Liye saya pasti beli. Tak jarang saya lupa bawa duit, karena memang hanya berniat cuci mata, saat saya melihat buku Tere Liye maka saya akan menitipkan itu buku ke kasir dan bilang, "Bang, saya beli buku ini tapi tunggu bentar ya, saya pulang ambil duit". Si abang cuma terbengong-bengong dan menggerakkan kepalanya tanda mengangguk. Aha, saya lupa, ini bukan toko buku langganan saya, mereka belum terbiasa. Namun kunjungan ke dua saya ke toko itu mereka hanya tertawa menyambut saya. Keanehan saya inilah alasan pertama anda harus baca bukunya Tere Liye. Ingin pinjam? Hubungi saya? Karena membaca tak harus membeli, keep reading guys...

Kembali pada novel berjudul di atas...
Novel ini mengisahkan kisah perjalanan Ray mendapatkan 5 jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupnya. Langit berbaik hati menjelaskan ke 5 jawaban atas pertanyaannya. Dalam perjalanannya mendapat jawaban itu ia ditemani oleh Orang Dengan Wajah Menyenangkan. Kisah ini diawali dengan tangis Rinai, gadis malang penghuni panti asuhan, di malam karnaval hari raya, malam takbiran. Di tempat yang sama namun pada dimensi yang berbeda, seorang bernama Ray, pasien yang berumur enam puluh tahun, dan Orang Dengan Wajah Menyenangkan menemaninya. Orang Dengan Wajah Menyenangkan memulai tugasnya, membantu langit menjelaskan pada Ray jawaban atas lima pertanyaan besarnya. Mengapa ia harus tinggal di panti yang penjaga pantinya sok suci itu? Apakah hidup ini adil? Kenapa langit tega mengambil istrinya? setelah memiliki segalanya, kenapa ia merasa hampa dan kosong? mengapa ia harus mengalami sakit yang berkepanjangan?
Itulah lima pertanyaan Ray. Jalan hidupnya ternyata menjadi jawaban atas lima pertanyaan lain dari penjaga panti, Diar, Plee, dan orang-orang di sekelilingnya...dan Rinai adalah salah satu jawaban atas pertanyaannya. Semua peristiwa besar atas jawaban itu terjadi pada malam karnaval hari raya, malam takbiran.

Tahukah anda? Saya selesai membaca novel ini tepat pada malam takbiran, ketika karnaval hari raya Idul Adha berlangsung. Buku itu telah amat lama saya beli namun baru sempat membacanya beberapa minggu sebelum lebaran. Novel yang membutuhkan waktu lama menamatkannya, bukan karena tak ada waktu membaca tapi karena isinya yang membuat saya berfikir keras tentang diri saya sendiri. Selesai dengan pikiran-pikiran itu, bahkan tak jarang tak membuahkan jawab, barulah saya bisa melanjutkan bacaan saya. Jika tidak begitu, maka serasa capung berterbangan memenuhi otak saya. Tak terbayangkan jumlahnya jika saya usir saat khatam membacanya.
Namun kepenuhan capung ini tak berarti novel ini rumit, tak dapat dipahami atau sebagainya. Novel ini hanya membuat saya berfikir. Itu saja. Masalah saya menamatkannya pada malam takbiran, langit punya jawabannya. Saya hanya bisa melongo malam itu. Suara takbir sahut-sahutan dari kejauhan, tak perduli apa yang terjadi.

Sinopsis pendek di belakang sampul buku ini tertulis: "di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. maka mulailah membaca dengan menghela napas lega". Namun sungguh setelah helaan napas lega itu tak akan ada lagi yang kedua, saya menghela napas dengan tercekat bahkan kadang tertahan bak disumpal hidung saya. tidak hanya membaca kisah Ray, tapi saya juga menjadi berpikir tentang hidup saya. Berulang, disetiap sub bab, di setiap petikan kisah. Tak henti seolah hujan terus mengguyur di musim penghujan, mata tak kering dari air bening sedikit asin yang terkadang bermuara di mulut. Begitu banyak penanda halaman yang saya buat di novel ini (tanda terbanyak hingga hari ini saya membaca novel).
Setelah membaca novel ini saya berfikir, apakah langit akan berbaik hati memberi jawaban atas lima pertanyaan besar saya? namun paragraf dalam novel ini menjawabnya: "...tentang berbagai bagian yang tidak dijelaskan, semoga langit berbaik hati memberi tahu. Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Yakinlah dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat pada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri".
Saya berdo'a agar saya dibimbing ke arah yang terbaik oleh Pencipta langit dan diberikan jawaban terbaik dari 'tahu' itu sendiri. Amiin...>.<

Saya memberi bintang 5 (lima) untuk novel ini. Bintang besar kalau ada...hehehe.

Thursday, November 18, 2010

Belajar Dari Siapa Saja

Inilah kisah saya beberapa hari lalu menjelang hari raya Idul Adha:

Lebaran Idul Adha sudah di pelupuk mata, seperti kebiasaan setiap tahun, ibu-ibu mulai menyiapkan bermacam-macam kue. Mulai dari kue kering hingga kue-kue basah. Biasanya anak-anak'a baik laki maupun perempuan akan dimintai sumbangan tenaga untuk menyelesaikan prosesi pembuatan yang nantinya akan dimakan bersama itu. Tak jarang kue-kue itu habis setengah resep pada proses pembuatan, maklum pekerja juga butuh asupan energi.

Lebaran kali ini berbeda, ada seorang kakak yang sudah semenjak sebulan lalu membantu kegiatan rumah tangga di rumah kami. Kak Safura namanya. Awalnya saya yang hanya mendengar sekilas mengira Sakura. Jadilah selama seminggu saya memanggilnya Kak Sakura. Yang dipanggil pun santai, tidak merasa namanya salah sebut. Hingga akhirnya sebuah form isian perbaikan Kartu Keluarga yang dibagikan ketua loronglah yang membuat saya mengetahui nama sebenarnya. Kebetulan tugas saya adalah mengisi berbagai form yang mampir ke rumah kami. Mengingat form-form semacam itu selalu dalam tulisan yang cukup mini hingga mamak atau ayah saya menyerahi saya tugas mulia itu. Hehehe...

Dua hari sebelum lebaran Idul Adha yang lalu, mamak saya membuat kue lebaran yang berbeda dari biasanya, yaitu keripik ketela. Kata mamak saya keripik ini enak rasanya n mamak saya pernah makan di salah satu rumah temannya, jadilah lebaran kali ini dicoba buat. Namun ternyata proses pembuatannya memakan waktu sanagt lama karena harus dipipihkan satu-satu. Wuiiih... Awalnya hanya Kak Safura yang membantu Mamak saya karena saya harus kuliah. Sepulang kuliah ternyata baru setengah stoples kecil yang jadi. Ckckckc...tapi setelah dirasa...gurih dan enak banget...>.<.. Namun penampakannya gak seenak rasanya, alias gak terlalu cantik. Kemudian saya pun ikut mengerahkan tenaga. Semua keripik selesai dibuat pada jam 9 malam...Fuiiih, capek. Namun tiba-tiba Kak Safura bilang, "Makasih ya Dek Lia udah bantuin". Nah saya mulai bingung. Kok berterima kasih?

Setelah saya tanya, ternyata ia berterima kasih karena telah dibantu membuat keripik enak yang ribet banget buatnya itu. Kemudian saya terharu soalnya Kak Safura baik banget. Ia merasa bertanggung jawab atas tugasnya. Walau terlihat rasa lelah dan bosan saat mengerjakan pekerjaan yang sama dari siang hingga malam. Terus saya jelaskan bahwa sayalah yang seharusnya berterima kasih karena jika tidak ada Kak Safura, maka sayalah sendirian yang selalu membuat itu semua seperti tahun-tahun yang lalu, dan mamak saya hanya tugas menggoreng. Terus ia tertawa dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. 

Besok harinya, sehari sebelum lebaran, kami beres-beres rumah. Karena Kak Safura mendapat jatah membersihkan rumah depan yang masih dalam perbaikan, maka pekerjaannya menjadi lumayan banyak. Terus setelah makan siang, saya disuruh mamak mencuci piring karena Kak Safura masih membersihkan rumah. Saat saya mencuci piring, tiba-tiba Kak Safura nongol dan bilang, "Kok piringnya Dek Lia cuci? Biar Kakak aja nanti yang cuci". Nah saya bingung lagi dan menjawab, "Gak papa kok kak biar D'Lia cuci". Terus Kak Safura bilang,"Makasih yaa". Saya cuma tersenyum sambil berpikir ya Allah kok ada orang yang polos banget n baik gini. Kan bukan berarti kalau orang yang membantu di rumah itu harus mengerjakan semuanya sendiri. Semua orang rumah, tidak perduli siapa, harus punya partisipasi dalam kegiatan rumah tangga. Begitulah selalu ajaran mamak saya yang luar biasa.

Maka patutlah saya belajar pada Kak Safura tentang tanggung jawab dan rasa bersyukur atas apa-apa yang kita dapatkan dari orang lain, walaupun itu hanya hal yang amat sederhana dan mungkin tidak berarti besar bagi kita.

Menyerbu Rumah Umay (Lebaran.com)

Hari ini adalah hari ke 2 lebaran Idul Adha. Karena nggak pulang kampung, jadilah kami berlebaran di Banda Aceh. Pasalnya ayah saya cuma libur sehari tok di tgl 17 Nov 2010 alias hari lebaran. Gak kalah menyedihkannya saya juga cuma libur sehari doank di hari yang sama, hari ini langsung ngampus. Tega nian mah si dosen. Karena satu kelas hampir semua bukan anak asli Banda Aceh jadilah yang datang kuliah cuma 10 orang di tambah 1 orang yang datang belakangan, totalnya 11 orang. Sehingga kami menyebutnya hari ini kita kuliah ala laskar pelangi. Yang jadi Lintang adalah kawan saya yang telat itu. Soal'a kan Lintang harus melewati beberapa kilometer untuk nyampe ke sekolah n melewati sungai berbuaya. Bedanya kawan saya ini rumahnya amat dekat dengan kampus. Guling-guling aja nyampe. Hihihi...Usut punya usut ternyata kawan saya itu sakit kepala kebanyakan makan daging...maklum lebaran kurban.

Di jadwal kuliah seharusnya, hari ini ada dua mata kuliah (Psikologi Industri n Psikodiagnostik). Namun dosen Psikodiagnostik yang baik hati memutuskan tidak jadi masuk karena mahasiswanya terlau sedikit dan rayuan maut kami mendarat mulus, kami hanya diserahi salah satu kitab psikologi yang harus di kaji n dibaca, demi menjadi psikolog yang handal. Cie...cie...
Akhirnya, kuliah di hari lebaran pun usai. 

Sepulang kuliah kami berencana pergi ke rumah Umay, teman saya. Nama lengkapnya Humaira. Ingin lebih kenal dengan dara cakep yang satu ini? klik disini. Hahaha...ka lage acara jodoh bak TV. Hihiy
Nah sehari sebelum lebaran, si Umay yang pinter banget masak ini hingga saya juluki Chef Handal ngesurvei para FB-er mau Cheese Cake atau Chocolate Melting Cake. Tanpa sungkan saya milih Chocolate Melting Cake soalnya saya kurang suka keju. Tak berselang lama, malamnya si umay udah ngetag foto cake yang siap disantap. Wuaaah....iler meleleh...slurp.slurp.slurp...
Ini dia si Chocolate Melting Cake:


Dengan langkah mantap kami keluar dari gedung kampus n menuju rumahnya Umay. Setelah melewati jalan-jalan yang sepi karena masih lebaran, tibalah kami di rumahnya Umay. Sampe disana ternyata banyak banget makanan. Selain Cake yang menggugah ini ada juga Puding (maaf kalo foto'a kurang mantap soalnya pake HP butut tercinta). Hehehe.


Ada kedondong di pejruek (manisan buah kedondong) yang merupakan hasil panen dari rumah Umay, tak ketinggalan Es Buahnya.

Belum lagi kue-kue kering yang banyak macam ragam yang membuat kami terus memamah biak. Selain itu di rumah Umay jg ada Sie Reboh (Daging Rebus). Makanan khas Aceh Besar ini dimasak amat sangat lezat oleh Bapaknya Umay. Ini adalah kali pertama saya makan Sie Reboh soalnya mamak saya belum pernah masak makanan yang satu ini soalnya banyak banget lemak dagingnya yang membuat kita harus memakannya segera setelah dipanaskan terlebih dahulu, soalnya kalo lama-lama bisa bergapah (lemak daging yang membeku seperti pada kuah sop daging yang dingin, itu loh yang di atas kayak es keras gitu).

Hebatnya, Sie Reboh ini dimasak sangat lama, kira-kira tiga hari, hingga dagingnya sangat empuk dan masakan ini mampu bertahan selama berbulan-bulan asal dipanaskan dengan teratur atau dimasukkan kulkas. Sie Reboh ini amat nikmat disantap dengan nasi panas. Di rumah Umay, ada dua versi Sie Reboh, satu versi yang tidak terlalu pedas dan yang satu lagi versi amat sangat pedas. Mendengar cerita kepedasan ini dari Umay, saya sampai sangat hati-hati sekali menuang kuahnya agar tidak kebanyakan. Ternyata setelah dicicipi, rasanya luar biasa ueeenaak. Yang dihidangkan ternyata yang versi tidak terlalu pedas. Hehehe...jadilah saya nambah kuah banyak-banyak. Ternyata sensasi pedasnya belakangan, setelah siap makan n cuci tangan mulailah rasa pedasnya menari-nari di lidah. Mantap.

Setelah dilakukan penelitian dan observasi lapangan. Ciaile... Ternyata banyak banget Sie Reboh yang dimasak Bapaknya Umay, dua kuali besar, kuali yang terbuat dari tanah liat membuat rasanya lebih mantap. Kata Umay mau dibagi-bagi ke sodara. Nah ini dia si mantap nan pedas itu:
Setelah makan-makan dan numpang shalat di rumah Umay, kami pun permisi pulang dan mengucapkan terima kasih yang amat dalam atas makananya. Hehehe. Setelah tiba di rumah dan saya pun tiba-tiba pingin makan Sie Reboh lagi. Ckckckc...Benar-benar lebaran yang berbeda kali ini dengan hadirnya Sie Reboh. Sie Reboh...Oh Sie Reboh...>.<




Arigatou.. Visit Again Yaa... ~