Wednesday, April 1, 2015

Far Away ~ Simon Adams

Beberapa waktu lalu, Line menshare sebuah id baru, yaitu Line Story. Jadilah saya Add id baru tersebut. Ternyata setelah di Add ada abang ganteng Nicholas Saputra dan kakak cantik Mariana Renata yang main drama mini line singkat. Jadi tiap hari kamis kita dikirimkan link video youtube mini drama ini. Daaaan.......suatu hari OST pertamanya muncul, judulnya Far Away penyanyinya Simon Adams. I love this song. Lagunya enak didengar dan setelah ngeh dengan liriknya dan ngeliat videonya yang berlatar Paris jadi teringat seseorang ding. Hahaha, you know who you are aja lah ya. Hohohoho.

Here we go.....langsung aja menuju video lagu yang keren itu ya. ^0^




Selamat menikmati....


*Salam Abang Nic.... #Eh

Sunday, March 29, 2015

Ini Dan Itu Maka.....

Ini dan itu maka Wawawa......Hahahaha

Wawawa moment adalah momen dimana saat saya sedang membaca sebuah tulisan, lalu kemudian secara tiba-tiba ilmu discourse analysis dan ilmu psychology keluar barengan, hasilnya adalah pura-pura gila aja. Hahahaha. A simple post that should make me smile brightly turn into a complicated writing. Tulisan ini malah membuat saya jadi tertawa terbahak dan berkerut-kerut kening tidak karuan. Hingga akhirnya saya memutuskan "Wawawa" alias pura-pura gila dan ngak paham untuk bisa tersenyum panjang kalau ingat post yang satu itu.

Gara-gara kejadian kali ini, saya jadi teringat petuah dosen penguji sidang skripsi saya. Tepat setelah selesai sidang skripsi, si ibu bilang pada saya, "Juza, setelah ini rencananya apa?" Saya menjawab beberapa hal yang ada dalam pikiran saya, tentunya tentang rencana masa depan saya. Kemudian si Ibu mengeluarkan pernyataan yang membuat saya dan teman-teman yang menunggu saya di luar ruangan sidang terkejut. "Anak Psikologi bagusnya menikah sebelum mengambil S2", begitu kata si Ibu, Kami kontan bertanya, lho, kenapa? Ibu penguji saya menjelaskan karena kalau sudah S2, tambah banyak ilmu psikologinya, semakin banyak juga hal yang nantinya jadi pertimbangan. Karena keliatan calonnya begini dan begitu. Sontak kami ber Oo ria dan tertawa bersama-sama.

Benar saja, kalau sekarang baru S1 Psikologi, ditambah ilmu discouse dari perkuliahan saya di Bahasa Inggris bisa membuat hal sepele seperti membaca aja jadi complicated, belum lagi hal-hal lainnya. Well, tapi apapun itu, kembali lagi ke diri masing-masing. Semoga saya dijauhkan dari sikap-sikap menghakimi, sok tau dan sok paham yang biasanya kerap menyerang para individu yang berkecimpung di dunia Psikologi. Amiiin XD

*Salam Psikoogi.....^-^

Saturday, February 28, 2015

Tertunai Tanpa Kata

Sebuah janji,
Jika diiringi niat tulus, jujur dan benar
Tidak akan ingkar
Bagaimanapun jalannya
Tertunai, InsyaAllah
Walau tanpa kata

Kuning yang mempesona, 28 Feb 2015

Menunggu = Gosong Lagi dan Lagi

Assalamu'alaikum......Smoga kita semua diberi kesehatan untuk tetap dapat beraktivitas dan beribadah kepada Allah. Amiiin.

"AAAAggghhhh......HAhahhahaha....."

Kira-kira beginilah jerit saya yang diikuti tawa yang ditujukan pada diri sendiri. Kemarin saya telah membuat sebuah masakan yang sengaja dimasak menjadi gosong. Dan saya amat merasa bersalah.

Adalah beberapa hari yang lalu saya bilang kepada mamak saya, bahwa saya pingin makan "sie reboh". Makanan ini adalah makanan khas Aceh Besar yang tidak pernah dimasak di dalam keluarga kami yang Aceh Pidie. Sayalah orang pertama yang memasak makanan ini setelah jatuh hati akibat mencicipinya di rumah teman. Jadi, jika ada daging di hari meugang atau lebaran, mamak saya akan menyisihkan sejumlah daging untuk saya masak sie reboh. Tidak banyak, karena yang makan cuma saya seorang, yang lain tidak doyan karena saya buatnya versi ektra pedas. Hahahha.

Setelah saya bilang saya pingin sie reboh, mamak saya membelikan daging untuk saya masak, setelah dimasak, masakan ini harus sering-sering dipanaskan beberapa hari, baru rasanya benar-benar enak dan pas untuk dinikmati. Setelah beberapa hari saya memanaskannya, tapi karena tak sabar saya sudah menghabiskan setengahnya. Suatu hari, tepatnya kemarin, saya memanaskannya lagi, karena mengingat masi lama, maka saya menyambi melakukan hal lain. Daaaan, terjadilah peristiwa gosong yang parah, karena saya Lupaaa!!!
Satu rumah berubah bau gosong, Daging sie reboh bagian atas yang masih bisa diselamatkan saya sisihkan, dan yang gosong terpaksa saya masukkan tong sampah. Hikss. Saya merasa amat bersalah, makanan yang dagingnya mahal, sengaja dibelikan karena saya pingin, sengaja saya masak dan bersabar berhari-hari (walau udah habis setengah) akhirnya harus berakhir di tong sampah. Masih banyak orang yang kelaparan di luar sana. Astagfirullah.....Hiksss.....T.T 

Sebenarnya, dalam persoalan masak memasak dan memanaskan makanan, mamak saya selalu berpesan jangan ditinggal. Karena trek record saya yang amat sering menggosongkan makanan membuat saya masuk black list mamak saya. Hahahaha.



Saya selalu sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan, tapi kalau lama sekali harus menunggu saya biasanya akan sambil melakukan sesuatu. Jika sudah begini, maka dimulailah mala petaka. Ayah saya lebih khawatir kepada masalah bahayanya masakan gosong karena dapat terjadi kebakaran. Hiks

Beginilah saya, susah sekali disuruh menunggu, saya terlalu asik dengan banyak hal selagi menunggu, hingga akhirnya lupa apa yang sedang ditunggu. Suatu hari karena tidak ingin membuat makanan rugi, akhirnya saya membuat alarm, agar setiap 5 menit saya mengecek masakan yang sedang saya tunggu. Hahhaha. Seharusnya saya selalu melakukan ini ya. Yosh Baiklaaaah.

Di lain waktu, saat menunggu teman yang sangking lamanya datang, saya menyambil dengan pergi ke tempat lain daripada menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa, sangking asik sendiri melakukan hal lain, akhirnya saya malah tidak menunggu, saya lupa. Begitu sadar, saya merasa bersalah dan langsung mengabari si kawan, bahwa saya sambil menunggu lupa dan sedang di tempat lain mengerjakan sesuatu. Si kawan malah santai bilang, dia masih di rumah. Oalaaah.

Menunggu mungkin merupakan hal yang membosankan, tapi jika menunggu itu diisi dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat insyaAllah tidak akan bosan. Begitu keyakinan saya. Hal ini berlaku untuk banyak hal, kecuali masak memasak yang menunggu merupakan proses yang harus dilewati dengan sabar tanpa boleh lengah. Hahahahha.

Saya sedikit terpukul dengan peristiwa gosong kali ini, semoga bisa menjadi pelajaran buat saya dan membuat saya lebih sabar menunggu. Amiiin

*Salam Gosong.....-_-"



Photo: zazzle.de and CartoonStock.com

Thursday, February 26, 2015

Membahagiakan Orang tua

"Selagi masih singel, puas-puaskan dengan orang tua, bahagiakan mereka, sebelum berkeluarga!!!"

Kalimat ini terbaca oleh saya, ditulis oleh seorang yang tidak saya kenal di komen facebook salah satu teman facebook saya. membuat saya tercenung dan teringat beberapa cerita, kejadian dan kabar-kabar. Well, dari cerita dan kabar-kabar yang saya dengar, maka wajar sekali seorang bapak-bapakyang sudah berkeluarga menulis komen di atas di sebuah status anak muda yang masi single.

Beberapa waktu lalu, saya ikut seminar "Menikah Itu Indah" yang diisi oleh Ustadz. Mohammad Fauzil Adhim. Walaupun judulnya seperti tertera di spanduk seminar tapi isi nya tidak tepat seperti apa yang tertulis. Namun acara itu adalah acara keren yang betul-betul membuat saya ber O O ria, soalnya banyak sekali tauladan yang bisa saya ambil dari kisah-kisah sahabat dan sahabiyah yang selama ini cuma saya baca dan saya pahami dari sisi sebuah cerita sahabat, padahal ternyata dari segi yang lain juga dapat diambil sebagai contoh yang membuat saya, ber lho? Eh Iya, Waaah ria sepanjang seminar. Ya, begitulah kira-kira eskpresi saya saat bagaimana kisah Asiah, Maryam, Khadijah dan Fatimah diambil hikmahnya dari sisi keperempuanan, pernikahan dan keluarga.

Back to the topic, salah satu peserta seminar bertanya, "Bagaimana kalau kita menunda menikah karena ingin membahagiakan orang tua terlebih dahulu?". Maka setelah pertanyaan dilontarkan Ust. menjawab dengan sebuah pertanyaan baru, "Apakah anda semua disini ingin membahagiakan orang tua dulu baru menikah?" sebagian menjawab 'iya' dan sebagian menjawab 'tidak' termasuk saya. Kemudian jawaban dari ust. memang klik sekali dengan jalan pikran saya. Bahwa, membahagiakan orang tua itu bukan hanya dulu, sekarang dan sebelum menikah, tapi selamanya, sepanjang hidupnya dan hidup kita. Terus menerus, tidak putus.




Hanya saja, mungkin cara membahagiakannya jadi sedikit berbeda. Misalnya selama ini tinggal bersama orang tua, setelah menikah tidak, tapi bagaimana diusahakan di waktu tertentu kita tetap punya quality time bersama orang tua, tidak perlu sering jika memang jauh dan tidak memungkinkan. tapi yang penting itu kualitas kebersamaannya. Jika biasanya memberikan sebagian atau seluruh gajinya dengan orang tua, maka dikomunikasikan, otomatis orang tua akan mengerti, namun jangan serta merta dan meninggalkan celeng kosong. Walau tidak memberikan secara penuh, karena sekarang berkeluarga, berikan semampunya yang memang sebaiknya dianggarkan atau diberikan dalam bentuk barang, makanan atau hal-hal kesukaan orang tua. Atau hal-hal lain, silahkan saja dimodifikasi sepintar dan sebaik mungkin. Namun, pesan ust. jangan menceritakan sebuah kabar atau berita yang tidak baik kepada keluarga, silahkan diselesaikan sebisa mungkin tanpa melibatkan keluarga, kecuali jika memang tidak bisa lagi dihindarkan. Karena jika seorang anak sedih, bermasalah, pusing, maka orang tua pasti juga ikut kepikiran. Kan kasian, udah diurus dari kecil, masak iya udah gede pun masalah kecil yang kita punya harus diurusin orang tua juga. Belajarlah bersama-sama pasangan menyelesaikan masalah dengan komunikasi yang baik. Bahkan, perkataan yang baik pada orang tua saja bisa membuat orang tua senang, jadi tidak melulu dalam bentuk finansial, untuk apa finansial yang dikirimkan ke orang tua banyak, namun tidak pernah ada saat orang tua sakit, selalu ketus, suka membantah, nah jadi mari menjadi pribadi yang membahagikan orang tua kapan pun, walaupun setelah menikah.

Ya, begitulah kira-kira isi jawaban dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan dan menurut saya sekaligus menjawab keheranan saya atas komen fb di atas. terlihat mudah dikatakan tapi sepertinya akan sulit dipraktekkan, Hahaha. Tapi dimana ada kemauan yang kuat, keikhlasan dan ilmu, insyaAllah dengan terus belajar dan mencoba tanpa lelah, insyaAllah akan bisa membahagiakan orang tua ya, kapanpun dimanapun. Amiiin.

*Salam Anak Meutuah...^_~



Photo: jenniferrasmussen.myadventures.org

Arigatou.. Visit Again Yaa... ~